Proyek Whoosh Jadi Beban Negara CISA Ingatkan Risiko Ekonomi Jangka Panjang
![]() |
| Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) mendesak aparat penegak hukum selidiki dugaan mark-up proyek kereta cepat Whoosh. (foto: antara) |
Direktur Eksekutif CISA, Herry Mendrofa, menegaskan bahwa proyek bernilai miliaran dolar itu harus segera diaudit secara menyeluruh. Ia menilai penyelidikan hukum penting, tetapi persoalan utama berada pada desain kebijakan dan pengelolaan keuangan sejak tahap awal.
"Masalah proyek Whoosh bukan hanya dugaan mark-up, tapi bagaimana risiko utang dan beban fiskal dikelola. Pemerintah tidak boleh lepas tangan," ujar Herry di Jakarta, Sabtu (25/10/2025).
Beban APBN Mengintai
Herry menyebut, proyek yang awalnya diklaim tidak akan menggunakan dana APBN justru berbalik arah setelah keluarnya Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021. Regulasi tersebut membuka peluang penggunaan penyertaan modal negara (PMN) serta penjaminan pemerintah terhadap utang proyek.
"Narasi bahwa proyek ini sepenuhnya business to business kini terbukti tidak realistis. Ketika biaya membengkak, negara ikut menanggung," jelasnya.
Menurut CISA, situasi ini berisiko menyeret keuangan negara dalam jangka panjang, terutama jika PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) gagal membayar bunga pinjaman.
Skema Pembiayaan Bermasalah
Managing Editor Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, bahkan menyebut skema pembiayaan proyek ini sarat kejanggalan sejak awal. Ia memaparkan, bunga pinjaman China mencapai 2 persen per tahun, atau 20 kali lebih tinggi dibanding tawaran Jepang yang hanya 0,1 persen.
"Kalau dibandingkan secara jujur, proposal Jepang jauh lebih efisien. Tapi anehnya, yang dipilih justru China dengan bunga lebih tinggi dan risiko lebih berat," ungkap Anthony di Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Perbedaan bunga tersebut, lanjutnya, menambah beban pembayaran sekitar US$90 juta per tahun, setara Rp1,47 triliun. Angka ini memperburuk posisi keuangan KCIC yang kini disebut-sebut kesulitan membayar bunga dan berisiko gagal bayar (default).
Proyek Bengkak, Efisiensi Menurun
Data menunjukkan, total nilai proyek Whoosh melonjak menjadi US$7,22 miliar setelah pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,2 miliar. Artinya, biaya per kilometer mencapai US$50,5 juta, jauh di atas rata-rata proyek serupa di China yang hanya US$17–30 juta per kilometer.
Anthony menilai, pembengkakan biaya ini bukan semata akibat perubahan desain, melainkan akibat lemahnya kontrol terhadap belanja proyek.
"Mark-up dalam proyek ini terlalu kasar dan tidak masuk akal. Ada unsur keserakahan yang jelas terlihat," tegasnya.
Transparansi Jadi Kunci
CISA menilai, penyelamatan proyek Whoosh tidak bisa hanya bergantung pada restrukturisasi utang. Pemerintah harus membuka seluruh data pembiayaan dan kontrak kepada publik untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
“Tanpa transparansi, proyek ini bisa menjadi beban fiskal jangka panjang yang merugikan generasi berikutnya,” ujar Herry.
Ia menegaskan, keberhasilan proyek nasional tidak diukur dari kecepatan atau prestise, tetapi dari sejauh mana proyek tersebut efisien, akuntabel, dan tidak menjerat negara dalam utang berkepanjangan. ***













