Malaysia Raih Tarif Nol Persen dari AS, Ekspor Sawit hingga Karet Makin Mengalir
![]() |
| Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyambut Presiden AS Donald Trump pada pemberhentian pertama kunjungannya ke Asia, di Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, 26 Oktober 2025.(evelyn hockstein / reuters) |
JAKARTA – Langkah diplomasi ekonomi Malaysia kembali mencatat tonggak bersejarah. Melalui perjanjian perdagangan timbal balik yang baru, Amerika Serikat resmi membebaskan tarif impor untuk lebih dari 1.700 produk Malaysia, termasuk minyak sawit dan karet—dua komoditas utama yang menjadi tulang punggung ekspor negeri jiran itu.
Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dan Presiden AS, Donald Trump, dalam kunjungan kenegaraan di Kuala Lumpur, Minggu (26/10). Dalam pernyataannya, Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Datuk Seri Tengku Zafrul Abdul Aziz, menegaskan bahwa langkah ini akan memperluas akses ekspor Malaysia ke pasar global terbesar dunia.
“Sebanyak 1.711 pos tarif, termasuk komoditas utama seperti sawit, karet, kakao, farmasi, dan suku cadang pesawat, kini mendapat pembebasan bea masuk 19 persen. Nilainya mencapai 5,2 miliar dolar AS, atau sekitar 12 persen dari total ekspor kami ke AS,” ujar Tengku Zafrul, dikutip Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, perjanjian ini tidak mengubah komitmen perdagangan sebelumnya, melainkan memperkuatnya dengan akses pasar yang lebih luas. Pemerintahan Trump juga disebut memberikan “pertimbangan istimewa” terhadap ekspor semikonduktor Malaysia, sesuai dengan Pasal 232 Trade Expansion Act AS.
“Kesepakatan hari ini memberi ruang lebih besar bagi industri kami untuk berkembang, sekaligus memastikan produk AS seperti perangkat medis dan suku cadang mesin bisa hadir lebih kompetitif di pasar Malaysia,” jelasnya.
Di sisi lain, Malaysia juga sepakat untuk tidak membatasi ekspor logam tanah jarang dan mineral penting ke Amerika Serikat — komoditas yang kini menjadi rebutan negara-negara besar setelah China memberlakukan pembatasan ekspor.
Selain membuka akses perdagangan, Malaysia turut melakukan pembelian strategis dari AS yang mencakup:
- 30 pesawat dengan opsi tambahan 30 unit;
- Komponen kedirgantaraan, semikonduktor, dan perangkat pusat data senilai 150 miliar dolar AS;
- 5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun senilai 3,4 miliar dolar AS;
- Batu bara serta produk dan layanan telekomunikasi senilai 204 juta dolar AS.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyaksikan penandatanganan Perjanjian Damai Kuala Lumpur antara Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul. Kunjungan Trump ke Malaysia ini merupakan bagian dari rangkaian KTT AS–ASEAN, sekaligus menjadi simbol penguatan hubungan Washington dengan Asia Tenggara.
Hubungan dagang kedua negara kini berada di level tertinggi. Amerika Serikat telah melampaui China sebagai mitra ekspor terbesar Malaysia, dengan total perdagangan mencapai 324,91 miliar ringgit pada 2024. AS juga menjadi investor asing terbesar, dengan nilai investasi mencapai 32,8 miliar ringgit.
“Bagi kami, kesepakatan ini bukan hanya soal angka perdagangan, tapi juga langkah strategis memperkuat posisi Malaysia di rantai pasok global dan memastikan kesejahteraan ekonomi jangka panjang,” tegas Tengku Zafrul. ***













