Pengamat Sebut Aksi Zulhas di Lokasi Bencana Bentuk Kepedulian Tulus, Bukan Pencitraan
![]() |
| Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat memanggul satu karung beras. (Ist) |
Kamis, 04 Desember 2025 06:23 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA - Pengamat pemerintahan, Sugiyanto yang akrab disapa SGY, angkat bicara mengenai perbincangan publik seputar tindakan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), saat mengunjungi lokasi bencana banjir dan longsor di Lubuk Minturun, Kota Padang, Sumatra Barat, Minggu (30/11).
Aksi Zulhas yang terekam dalam video berdurasi 1 menit 58 detik menampilkan dirinya memanggul satu karung beras dan memberikan bantuan langsung kepada warga terdampak hingga menjadi sorotan dan memicu perdebatan. Sebagian pihak menilai tindakan tersebut sebagai pencitraan. Namun, SGY menilai hal itu jauh dari tudingan tersebut.
Menurut SGY, setelah mencermati keseluruhan rangkaian video yang diunggah PAN TV dan akun Instagram pribadi Zulhas, terlihat jelas bahwa kunjungan tersebut dilakukan secara utuh, menyeluruh, dan bukan sekadar menghadirkan momen tertentu untuk keperluan publikasi.
"Jika melihat videonya secara lengkap, kita dapat memahami bahwa tindakan Pak Zulhas memanggul beras itu bukan adegan yang dibuat-buat. Itu muncul secara spontan dalam situasi darurat ketika warga benar-benar membutuhkan uluran tangan, kehadiran pejabat, dan perhatian moral. Tindakan itu juga sejatinya dapat menjadi contoh dan teladan," kata SGY, melalui keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).
Dalam video pertama, SGY menjelaskan, Zulhas tampak berdialog dengan warga dan menjelaskan kondisi rumah yang hilang akibat banjir, termasuk koordinasi dengan Wali Kota setempat untuk menyiapkan lahan relokasi dan rencana percepatan pembangunan kembali rumah warga.
Kemudian, pada video kedua, Zulhas terlihat menenangkan warga yang menangis lantaran kehilangan harta benda. Sementara, dalam video ketiga, ia bukan hanya membawa bantuan berupa beras, tetapi juga ikut membersihkan sisa lumpur di lingkungan warga.
SGY menegaskan bahwa sikap tersebut selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengatur kewajiban pejabat negara untuk memberikan perlindungan, bantuan, serta langkah pemulihan kepada masyarakat terdampak bencana.
"Dalam kondisi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga kehadiran figur pemerintah yang memberikan rasa aman dan empati. Tindakan Pak Zulhas mencerminkan itu. Ini lebih dari sekadar tugas formal, melainkan panggilan kemanusiaan," tegasnya.
SGY menyebut, mengkritik tanpa melihat konteks penuh adalah langkah yang tidak bijak. Untuk itu, lebih baik publik memberikan apresiasi kepada pejabat yang turun langsung membantu, ketimbang mencurigai setiap tindakan positif sebagai pencitraan.
"Ketika seorang pejabat turun tangan, membantu, memikul sendiri bantuan untuk rakyat yang terdampak, itu harus diapresiasi. Tidak semua pejabat mau melakukan hal serupa. Ada yang justru hanya memberi komentar dari jauh tanpa terlibat langsung," terangnya.
Ia berharap agar semua pihak, terutama warganet, lebih objektif dalam menilai tindakan pejabat publik di lapangan, khususnya dalam kondisi kedaruratan. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengutamakan solidaritas dan memberikan dukungan kepada para korban bencana.
"Terpenting saat ini adalah bagaimana seluruh pihak dapat bahu-membahu membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Kritik boleh saja, tetapi harus proporsional dan tidak mengaburkan niat baik," pungkas SGY. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Nasional |













