Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
23 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
16 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
15 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
16 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
16 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
23 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Nasional

Ekonom Senior UI Fithra Faisal: Anggaran MBG Akan Dievaluasi

Ekonom Senior UI Fithra Faisal: Anggaran MBG Akan Dievaluasi
Ekonom Senior UI, Fithra Faisal dan Eddy Wijaya. (Ist)
Rabu, 31 Desember 2025 22:15 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam setahun pertama pelaksanaannya melahirkan sejumlah polemik. Selain standar menunya yang berbeda di sejumlah daerah, kegagalan distribusi, isu keracunan, hingga soal transparansi pemerintah dalam pemilihan vendor dan anggarannya.

Belakangan ini pun pemerintah dikritik lantaran tetap memberikan MBG pada masa libur sekolah. Kebijakan ini dipandang tidak efisien dan memboroskan anggaran. Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, mengklaim pemerintah menaruh perhatian pada pelaksanaan MBG termasuk kontroversi yang menyelimutinya.

“Yang paling penting adalah kendali institusional. Jadi dalam konteks ini Pak Presiden selalu melihat dan mengevaluasi lebih dulu apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 25 Desember 2025.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan pemerintah adalah menerapkan sertifikasi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan menambah dapur-dapur mulai pertengahan tahun 2025. Langkah itu diambil sebagai jawaban atas kritik masyarakat yang ingin menu MBG lebih steril dan segar, mengikuti model dapur sekolah yang ada di Jepang.

Sampai Maret 2025, tercatat ada 726 SPPG di 38 provinsi yang melayani 2,5 juta penerima manfaat. Pemerintah menargetkan jumlahnya akan bertambah hingga 32 ribu SPPG agar bisa menjangkau lebih banyak siswa.

Fithra menyebut, pemerintah juga menimbang masukan soal aturan yang bisa membatasi pengelolaan SPPG agar tidak dikuasai satu orang atau kelompok saja. Seperti diketahui, masyarakat sempat dikagetkan oleh kabar adanya anak anggota DPRD Sulawesi Selatan,

Yasir Machmud, yang memiliki 41 dapur SPPG untuk MBG. Walau Badan Gizi Nasional (BGN) sudah membatasi satu yayasan hanya bisa memiliki 10 SPPG per provinsi, tapi aturan ini masih punya celah untuk dimasuki.

“Dalam beberapa kesempatan, Pak Presiden sangat mempertimbangkan bagaimana kue-kue ekonomi ini tidak hanya digunakan atau dikuasai oleh sekelompok orang,” katanya.

Karena itulah ia kembali menekankan soal evaluasi setahun berjalannya MBG, termasuk soal anggarannya. Tahun ini, anggaran MBG Rp171 triliun ternyata baru terpakai Rp71 triliun.

“Nah untuk tahun depan, anggaran Rp335 triliun itu juga tentunya akan selalu dievaluasi. Apakah terjadi penumpukan di satu kelas saja, atau adakah faktor-faktor yang lebih inklusif sebagaimana cita-cita dari Pak Presiden di awal,” ujarnya. ***

wwwwww