Tiket Domestik Selangit Jelang Lebaran, Indef Sebut Pemudik Pilih Terbang Melalui Negara Tetangga
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Musim libur Idul Fitri kembali diwarnai persoalan klasik terkait melambungnya ongkos transportasi udara domestik. Biaya penerbangan menuju sejumlah daerah di Pulau Sumatera bahkan terpantau jauh melebihi harga tiket menuju negara tetangga, membuat masyarakat terpaksa memutar rute perjalanan demi menekan pengeluaran.
Fenomena transit melalui Malaysia atau Singapura kini menjadi pilihan logis bagi sebagian perantau di tengah himpitan harga tiket penerbangan langsung.
"Dalam beberapa kasus, tiket ke luar negeri justru lebih murah dibandingkan penerbangan domestik ke sejumlah daerah di Indonesia," ungkap Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Indef, Nur Komaria, Senin (9/3/2026).
Tingginya ongkos ini dinilai tidak hanya mencekik para perantau, tetapi juga memukul mundur potensi roda perekonomian pariwisata daerah. Nur menyoroti bahwa kebijakan batas atas dan bawah tarif penerbangan oleh pemerintah rupanya belum ampuh meredam jeritan masyarakat. Ia mendesak agar aturan harga transportasi udara dikelola secara kompetitif sepanjang tahun, bukan sekadar penyesuaian sesaat menjelang musim liburan.
Derita masyarakat ternyata tidak berhenti pada mahalnya biaya pulang kampung. Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Abdul Manap Pulungan, menyebutkan bahwa lonjakan konsumsi saat hari raya tahun ini dibayangi oleh tekanan inflasi yang memberatkan.
"Momen Lebaran memang selalu meningkatkan konsumsi, terutama dari THR dan aktivitas mudik. Tetapi tantangannya adalah inflasi, khususnya dari bahan makanan dan energi," jelasnya.
Inflasi pada bulan Februari yang menyentuh angka 4,76 persen menunjukkan kenaikan harga yang signifikan, terutama pada sektor pangan. Akibatnya, tambahan penghasilan pekerja seperti tunjangan hari raya belum tentu mampu mendongkrak daya beli secara riil di lapangan.
"Tambahan THR sering kali hanya menjadi bantalan agar daya beli tidak turun lebih dalam akibat kenaikan harga," tambahnya.
Beban ekonomi domestik ini kian dipertaruhkan oleh rentetan konflik geopolitik yang menyeret Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, memperingatkan bahwa ketegangan di jalur strategis Selat Hormuz sangat berisiko mengganggu pasokan energi dunia.
"Ketegangan geopolitik meningkatkan ketidakpastian pasar energi global. Jika pasokan terganggu, harga minyak bisa naik lebih tinggi," paparnya.
Sebagai negara yang masih bersandar pada impor energi, kenaikan harga minyak mentah global otomatis akan memperlebar biaya impor Indonesia. Kondisi ini sangat rawan merembet pada terkereknya harga komoditas pangan esensial di pasaran, mulai dari beras, gula, hingga minyak goreng.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Olympic, Voli, Ekonomi, DKI Jakarta |













