Tahan Laju Dolar AS, Kemenkeu Aktifkan BSF Rp2 Triliun per Hari
![]() |
| Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa |
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi bahwa intervensi ini menggunakan manajemen kas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menegaskan langkah ini bukan bagian dari skema Bond Stabilization Framework yang memerlukan pelibatan special purpose vehicle (SPV) kementerian.
"Ada dua cara kita masuk, melalui framework maupun melalui cash management (BSF) kita sendiri. Ini baru cash management," urai Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Operasi pasar telah dimulai sejak Kamis pekan lalu. Meskipun target harian penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) dipatok Rp2 triliun, volume pelepasan oleh investor global baru tercatat senilai Rp600 miliar.
"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar, artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kita memastikan harga bond tetap terkendali itu," terangnya.
Permintaan penyediaan dana harian dalam jumlah besar ini sebelumnya telah diinstruksikan langsung oleh Purbaya.
"Saya minta masuk Rp2 triliun setiap hari," ucapnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (18/5/2026).
Purbaya menjamin ruang fiskal APBN tetap aman. Manuver ini dirancang murni untuk menciptakan sentimen positif di pasar obligasi dan mencegah terganggunya pasokan dolar akibat hengkangnya modal asing.
"Kan duitnya enggak hilang, cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi," tegasnya.
Kestabilan harga obligasi diharapkan dapat mempertahankan sekaligus menarik minat pemodal asing untuk masuk lebih banyak ke pasar domestik.
"Kalau sentimen positif di situ, biasanya asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali. Kenapa? Karena uangnya enggak keluar lagi. Yang asing enggak jual bond dan kabur keluar," paparnya.
Penurunan imbal hasil (yield) juga menjadi salah satu sasaran utama intervensi ini agar pasar obligasi mendatangkan keuntungan.
"Karena bond-nya stabil harganya. Artinya kalau stabil, kalau memang yield-nya turun kita targetkan bisa turun. Kalau yield-nya turun kan berarti harga bond-nya naik. Nanti ada potensi capital gain, jadi harusnya sih pasar bond kita menarik," tutupnya. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Nasional |













