Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
18 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
16 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
19 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
19 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
21 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
18 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Maros Reina Sebut Super League 2025/2026 Sulit dan Penuh Tantangan

Maros Reina Sebut Super League 2025/2026 Sulit dan Penuh Tantangan
Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina. (Ileague.id)
Rabu, 20 Mei 2026 14:31 WIB
Penulis: Azhari Nasution

KEDIRI - Marcos Reina adalah salah satu pelatih debutan di sepakbola Indonesia. Meski baru setengah musim berkiprah di Super League 2025/2026 bersama Persik Kediri, dia mengaku belajar banyak soal sepak bola negeri ini.

Pelatih asal Spanyol ini resmi menukangi Macan Putih sejak 4 Desember tahun lalu untuk menggantikan Ong Kim Swee yang harus pulang ke Malaysia untuk membangun sepak bola muda di negaranya.

Laga tandang Persik melawan Persebaya, 23 Mei nanti, jadi pertandingan ke-21 bagi jurutaktik berusia 41 tahun ini. Dari 20 pertandingan sebelumnya, Marcos Reina mencatat tujuh kemenangan, tiga imbang, dan sepuluh kekalahan. 

Meski kariernya di Indonesia baru seumur jagung, Marcos Reina membawa gaya permainan berbeda bagi skuat Persik Kediri. Style Spanyol yang diusungnya membuat performa Hamra Hehanussa dkk. makin rancak dan enak ditonton. 

"Saya belajar banyak selama di sini. Sebagai orang baru, saya harus beradaptasi dengan lingkungan. Saya belajar kultur, karakter pemain lokal, dan skill mereka," katanya. 

Soal pemain, mantan arsitek Ranger's FC di Liga Andorra ini juga mengamati penggawa lokal yang membela tim lain. "Kesimpulan saya Indonesia punya banyak pemain lokal bagus. Sepak bola negara ini akan terus berkembang. Begitu juga kompetisinya jika terus ditata lebih baik lagi," ucapnya.

Marcos Reina juga menyebut selama menjadi pelatih, Kompetisi Super League termasuk salah satu kompetisi sangat sulit dan penuh tantangan. "Super League sangat kompetitif. Tiap pekan kita tak bisa memprediksi hasil akhir pertandingan. Ini membuat saya harus bekerja keras tiap hari dan merancang taktik baru. Tapi bagi saya ini faktor sangat menarik," tuturnya. ***

wwwwww