Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
21 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
22 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
3
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
22 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
4
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
21 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
5
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
6
Makan Konate Menerima Kekalahan Lapang Dada
Sepakbola
23 jam yang lalu
Makan Konate Menerima Kekalahan Lapang Dada
Home  /  Berita  /  Olympic

Harapan Damai di Selat Hormuz Tekan Harga Minyak Mentah Global

Harapan Damai di Selat Hormuz Tekan Harga Minyak Mentah Global
Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP
Minggu, 14 Juni 2026 18:44 WIB

JAKARTA - Tanda-tanda perdamaian sementara antara AS-Israel dan Iran membawa dampak signifikan bagi pasar energi global, Jumat (12/6/2026). Harga minyak mentah dunia tersungkur ke posisi terendah semenjak pecahnya perang, seiring adanya sinyal pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Merujuk pada data Bloomberg, minyak Brent berjangka ditutup turun 3,4 persen di angka USD 87,33 per barel, menjadikannya level terendah sejak 5 Maret, dan mencatatkan penurunan mingguan sebesar 6,2 persen. Koreksi juga terjadi pada minyak West Texas Intermediate yang turun 3,2 persen menjadi USD 84,88 per barel, disusul harga kontrak berjangka gas alam Eropa yang anjlok 8,4 persen.

Penyesuaian Pasar Merespons Konflik

Sejak mencapai puncaknya, harga minyak mentah telah terkoreksi sekitar 30 persen. Kondisi pasar global sebelum pecah perang di bulan Februari sebenarnya sudah kelebihan pasokan, di mana minyak mentah Brent sempat stabil di kisaran USD 70 per barel.

Penurunan harga saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen perdamaian, tetapi juga adaptasi pasar dalam menyiasati penutupan Selat Hormuz—jalur yang menampung sekitar seperlima minyak dunia sebelum konflik. Cara pasar menyeimbangkan pasokan meliputi:

  • * Penyamaran Rute: Peningkatan jumlah kapal yang melintasi jalur air dengan mematikan sinyal satelit.
  • * Dinamika Ekspor-Impor: Penurunan impor dari China yang dibarengi oleh lonjakan tajam ekspor AS.

"Bahkan jika kesepakatan damai sementara diselesaikan dan selat dibuka kembali, kita masih akan menghadapi keterbatasan pasokan," ungkap Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth.

Progres Diplomasi Jelang G7

Pejabat senior menyebutkan AS dan Iran kian dekat menuju kesepakatan pembukaan Selat Hormuz, yang direncanakan bisa diteken saat pertemuan para pemimpin dunia G7 minggu depan. Meski demikian, komunikasi yang bertolak belakang antara Washington dan Teheran masih membayangi kepastian waktu tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memberikan sinyal positif lewat media sosialnya. Ia menyebut nota kesepahaman belum pernah sedekat ini, yang langsung menguatkan ekspektasi pasar akan selesainya konflik yang telah memasuki bulan keempat ini. Pejabat Iran sejauh ini tampak lebih menahan diri dibandingkan rekan-rekan AS dalam membeberkan progres perundingan.

Ketidakjelasan isi nota kesepahaman tetap membuat para pemilik kapal tanker waspada. Bahkan, beberapa pihak mengantisipasi kekacauan jika selat dibuka. Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth mengingatkan bahwa kapal-kapal dari Teluk Persia yang menuju Asia, sebagai pasar utama, akan memakan waktu dua bulan untuk perjalanan bolak-balik.

"Pasar akan berupaya melakukan diversifikasi dari mereka, setidaknya dalam jangka pendek, karena Iran pada dasarnya telah menyadari bahwa menutup selat itu bukanlah hal yang sulit," terang Spesialis energi ICAP, Scott Shelton, merespons tren negara yang kini beralih membeli minyak mentah AS.

Sikap hati-hati investor terlihat dari menurunnya posisi terbuka pada patokan Brent ke level terendah lebih dari setahun terakhir. Selain itu, peningkatan posisi bullish di pasar gas Eropa juga membawa sentimen tambahan.

"Kabar tentang potensi kesepakatan tersebut tampaknya telah mendorong pelaku pasar untuk ingin menutup beberapa posisi beli sebelum akhir pekan," tutup Direktur gas dan LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Olympic
wwwwww