Bertahan Hidup Jualan Online Guru ASN Baubau Tak Digaji
![]() |
| Seorang guru aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di SMP Negeri 2 Baubau, Hasrianti, mengaku tidak menerima gaji selama enam tahun atau sekitar 73 bulan. |
JAKARTA - Seorang guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di SMP Negeri 2 Baubau bernama Hasrianti harus menghadapi ujian berat. Ia tidak menerima gaji selama enam tahun atau sekitar 73 bulan, namun tetap setia menjalankan profesinya di tengah kondisi suami yang sakit selama 14 tahun.
Mengutip laporan Kompas.com, Selasa (23/6/2026), Hasrianti mengaku tidak memahami dasar penghentian haknya sebagai ASN.
"Jadi langsung begitu saja menahan gaji saya. Tidak pernah dipanggil untuk dibina atau diberikan penjelasan," ungkap Hasrianti.
"Saya juga tidak tahu kesalahan apa yang saya lakukan. Katanya saya meninggalkan tugas, tetapi saya sudah menunjukkan bukti absensi saya (di SMP Negeri 2)," urainya.
Birokrasi Buntu Pemindahan Tugas
Pangkal masalah disebut-sebut bermula dari dugaan kelalaian dan informasi mutasi ke SMP Negeri 7 Baubau. Anehnya, informasi itu hanya berupa nota tugas tanpa Surat Keputusan (SK) resmi.
"Sampai hari ini saya tidak tahu kenapa gaji saya ditahan," imbuhnya.
Hasrianti berusaha melacak keberadaan dokumen pemindahannya agar mendapatkan titik terang.
"Katanya ada nota tugas yang dikeluarkan tanggal 4 Juni 2019. Tetapi ketika saya minta nota tugas itu, tidak pernah diberikan," terangnya.
Penelusuran ke berbagai instansi tidak membuahkan hasil.
"Saya menghadap kepala sekolah tidak diberikan, ke kepala dinas juga tidak diterima. Saya cari di BKD juga tidak ada. Saya bahkan berusaha menemui Sekda saat itu, tetapi juga tidak bisa bertemu," papar Hasrianti.
Menjadi Tulang Punggung Keluarga
Merasa tidak pernah memegang dokumen mutasi, Hasrianti tetap mengajar seperti biasa di sekolah lamanya.
"Karena saya tidak memperoleh nota tugas, saya tetap bertugas di SMP Negeri 2 Baubau. Saya tetap hadir setiap hari dan menjalankan tugas seperti biasa," ucapnya.
Kini, Hasrianti sangat menantikan kepastian dari Pemerintah Kota Baubau karena tanggung jawab ekonomi keluarga sepenuhnya ada di pundaknya.
"Otomatis tanggung jawab itu beralih kepada saya. Saya menjadi tulang punggung keluarga," jelasnya.
Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa menempuh berbagai cara.
"Saya terpaksa mengutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya dan selama tidak ada gaji, saya banting tulang berjualan online. Anak-anak saya yang sudah dewasa juga saya arahkan ikut berjualan online," sambungnya. ***












