Menakar Kesejahteraan Pekerja WFH Lewat Kualitas Interaksi Sosial
![]() |
JAKARTA - Tingginya minat terhadap sistem kerja jarak jauh berkat keunggulan waktu tempuh yang singkat dan jadwal fleksibel rupanya menyimpan risiko bagi kelompok tertentu. Pekerja yang tidak memiliki teman serumah dilaporkan lebih rentan mengalami tekanan mental dan keterasingan akibat hilangnya kontak sosial rutin.
Publikasi terbaru dari jurnal Science mengupas tuntas data survei nasional sepanjang satu dekade terakhir. Analisis ini menyoroti perbedaan kondisi psikologis antara pekerja jarak jauh dan pekerja tatap muka.
Kesepian di Balik Fleksibilitas Waktu
Data mengungkap bahwa pekerja yang tinggal mandiri dan bekerja secara virtual menghabiskan 25 persen hari mereka murni tanpa kontak sosial. Angka tersebut melampaui dua kali lipat durasi isolasi yang dialami pekerja dengan sistem kehadiran langsung.
Walau terkesan sepi, pakar mengingatkan agar perusahaan tidak serta merta memaksa karyawan kembali ke meja kerja. Psikolog dari Tampa Florida yang kerap meneliti fleksibilitas dan kesehatan pekerja, Tammy Allen menyoroti ilusi interaksi di lingkungan korporat.
"Anda tidak bisa berasumsi bahwa seseorang berada di kantor berarti mereka benar-benar berinteraksi dengan manusia lain," terang Allen.
Pendiri Institute for Life at Work, Dr Constance Noonan Hadley juga sepakat bahwa bangunan kantor tidak otomatis menyajikan interaksi yang diharapkan. Upaya mengusir kesepian harus dimulai dengan mendatangi lingkungan tempat pekerja merasa dihargai.
"Ketika pergi ke kantor, bukan berarti seseorang otomatis berada dalam lingkungan yang bermakna dan memenuhi kebutuhan sosial," beber psikolog organisasi tersebut, sebagaimana disiarkan CNN, Rabu (16/9/2026).
Merancang Interaksi yang Sehat
Ketimbang memaksakan kehadiran fisik di perusahaan, Hadley mendorong pekerja yang bermukim sendiri untuk proaktif merangkai rutinitas sosial harian. Tindakan ringan seperti mengobrol dengan barista atau saling sapa dengan warga sekitar amat membantu menumbuhkan rasa memiliki.
Konsep Ruang Alternatif
Tempat yang paling mampu menjawab kebutuhan sosial ini kerap merujuk pada ruang ketiga, seperti kedai kopi atau ruang kerja bersama. Di fasilitas umum semacam ini, pekerja bisa terbebas dari tekanan atau rivalitas langsung dengan rekan kerja setimnya.
Peran aktif perusahaan juga dinilai krusial untuk mencairkan isolasi ini. Institusi dapat menyediakan saluran interaksi melalui program bimbingan, aktivitas hobi, hingga pembentukan kelompok sosial. Dari sisi individu, pekerja jarak jauh perlu disiplin mengalokasikan waktu untuk bercengkerama bersama pasangan, teman, keluarga, maupun beraktivitas di area publik.
Secara makro, daya tarik bekerja dari rumah terbukti mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Survei Gallup bulan November mencatat 61 persen pekerja Amerika Serikat menempatkan sistem hibrida sebagai prioritas. Sebanyak 33 persen pekerja menuntut sistem jarak jauh penuh, menyisakan enam persen saja yang ingin menetap di kantor.
Kajian lain di jurnal Frontiers in Psychology bulan Juli yang melibatkan 7.700 tenaga kesehatan juga membuktikan bahwa pekerja jarak jauh melaporkan tingkat kesejahteraan positif tertinggi dibanding sistem lainnya. Oleh karena itu, para ahli menegaskan bahwa evaluasi kesehatan mental pekerja jarak jauh tidak bisa dipisahkan dari situasi spesifik lingkungan hidup mereka masing-masing.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Automotif, DKI Jakarta |












