Indonesia Lampaui Target, Energi Baru Hingga Makna Filosofi Gorga dan Limar
![]() |
| CdM Todotua bersama Rahmat Erwin Abdullah. (Foto - NOC Indonesia) |
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Kontingen Indonesia mengoleksi 5 medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu dan menempati peringkat ke-15 pada klasemen akhir perolehan medali pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Dari hasil perolehan medali emas dan peringkat, Indonesia menurun dibandingkan pada Asian Games Hangzhou 2022 yang digelar tahun 2023. Saat itu, Kontingen Merah Putih berada di peringket ke-13 dengan 7 medali emas, 11 Perak, dan 18 perunggu.
Tapi perlu menjadi catatan penting, Pasukan Garuda yang dipimpin Chef de Mission (CdM) Todotua Pasaribu ini telah melampuai target yang dibebankan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yakni 4 medali emas. Karena, Menpora Erick Thohir menyebut ada nomor-nomor unggulan Indonesia yakni dua nomor dari cabang dragon boat dan satu nomor menembak yang dihapus pada Asian Games edisi ke-20 tersebut.
Tiga tahun lalu, Indonesia mengoleksi 7 medali emas dari Amellya Nur Sifa (Balap Sepeda - BMX), Tim Men's Dragon Boat 1000m (Perahu Naga), Muhammad Sejahtera Dwi Putra (Menembak - 10m Running Target), Muhammad Sejahtera Dwi Putra (Menembak - 10m Running Target Mixed/Team), Desak Made Rita Kusuma Dewi (Panjat Tebing - Speed Putri), Rahmat Erwin Abdullah (Angkat Besi - Kelas 73 kg Putra), dan Harris Horatius (Wushu - Taolu Nanquan/Nagun).
Kini, 5 medali emas dihasilkan, Rahmat Erwin Abdullah (Angkat Besi- Kelas 75kg Putra), Tim Beregu Putra Indonesia (Bulutangkis), Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin (Bulutangkis-Ganda Putra), Desak Made Rita Kusuma Dewi (panjat tebing- speed putri), dan Nurisa Dian Ashrifah (Panahan- Individual Compound Women’s).
Dari daftar tersebut, Indonesia kehilangan pasokan medali emas dari cabang balap sepeda, wushu, dan menembak. Namun, cabor Angkat Besi dan panjat tebing sukses mempertahankan tradisi medali emas lewat penampilan Rahmat Erwin Abdullah dan Desak Made Rita Kusuma Dewi. Keduanya telah tercatat sebagai penyumbang medali emas pada Asian Games edisi ke-19.

Yang membuat kejutan cabor bulutangkis dimana Tim Bulutangkis Beregu Putra sukses meraih emas setelah mengalahkan China dengan skor 3-2 di final sekaligus mengulang sejarah 28 tahun lalu tepatnya pada Asian Games Bangkok 1998.
Lalu, pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang sukses mengubur Impian ganda China Liu Yi dan He Ji Ting di final dengan skor 2-0.
Kejutan lain datang dari pemanah putri Indonesia, Nurisa Dian Ashrifah yang mengukir sejarah menjadi pemanah pertama Indonesia yang meraih medali emas di Asian Games. Nurisa berjaya di Nomor Compound melebih prestasi pemanah Indonesia sebelumnya yang hanya meraih medali perak dan perunggu dari nomor Recurve pada Asian Games.
Boleh dibilang Asian Games Aichi-Nagoya 2026 terasa lebih spesial. Bukan hanya kemuculan cabor bulutangkis dan panahan sebagai penyumbang medali emas. Namun, cabor-cabor pendatang baru pun di Asian Games ikut memberikan kontribusi. Cabor Teqball dengan skuad empat atlet mampu pemasok 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Lalu, cabor Padel yang menyumbang 1 perak dan 1 perunggu.

Energi Baru
Yang lebih spesial lagi, kehadiran CdM Todotua Pasaribu yang ditunjuk Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari dan Menpora Erick Thohir telah membuktikan kemampuannya menjalankan perannya dengan baik. Wakil Menteri Investasi ini tidak hanya sukses memberikan kenyamanan tetapi keberadaannya disebut sebagai energi baru bagi atlet yang berjuang maksimal di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
“CDM Todotua sangat low profile. Luar biasa pelayanan terhadap Cabor,dengan pendekatan emosional yang baik dan memberikan dukungan. Boleh dibilang beliau telah memainkan perannya dengan sempurna. Semua Cabor yang ada dikunjungi dan diberikan motivasi dan diberikan perhatian dari hati ke hati terutama kepada atlet. Dampak psikologinya membuat atlet merasa nyaman saat bertanding sehingga memberikan perjuangan maximal di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. CdM Todotua itu energi baru atlet Indonesia sebelum turun ke gelanggang,” kata Eksekutif Komite NOC Indonesia, Krisna Bayu Oly.
Pengakuan tersebut juga datang dari Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PP Perpani), Irawadi Hanafi yang mendampingi Tim Panahan Indonesia di Jepang. “Luar biasa peran CdM Todotua dan timnya yang mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Koordinasinya sangat baik. Apalagi, CdM Todotua selalu memberikan motivasi bagi atlet dengan hadir langsung memberikan dukungan,” ujarnya.
“Ya, peran CdM Todotua sangat dirasakan. Atlet lebih nyaman dan selalu memberikan dukungan saat tampil,” timpal pelatih Tim Panahan Indonesia, Lilies Handayani yang juga anggota Trio Srikanda penyumbang medali perak Olimpiade Seoul 1988.
“Keberhasilan Teqball meraih 1 medali perak dan 1 medali perunggu tidak terlepas dari dukungan Pak Menpora Erick Thohir dan CdM Todotua Pasaribu. Pelayanan Tim CdM juga sangat bagus dan atlet bisa nyaman selama berada di Jepang,” kata Sekjen PP POTSI, Susan Subakti.

Makna Filosopi Gorga dan Limar
CdM Todotua yang dihubungi terpisah, mengaku bersyukur perjuangan atlet-atlet Indonesia telah menghasilkan lima emas. Artinya, lima kali Lagu Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar di puncak tertinggi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
"Disatu sisi, kita bersyukur ini melebihi target 4 emas. Satu sisi yang lain, kita pasti tentu selalu ingin lebih. Tetapi kita juga harus melihat perjalanan ini secara utuh. Di tengah berbagai keterbatasan persiapan yang dihadapi sejumlah cabang olahraga, para atlet kita justru mampu melampaui target emas, sekaligus mempersembahkan begitu banyak medali perak dan bahkan perunggu," katanya.
Apa yang dicapai ini mengingatkan CdM Todotua tentang filosofi Gorga dan Limar.
"Saya teringat saat defile pembukaan. Kontingen Indonesia berjalan membawa Gorga dan Limar. Gorga melambangkan kekuatan dan perlindungan, sementara Limar membawa makna kehormatan dan keunggulan. Hari ini, filosofi itu seperti menemukan maknanya sendiri," jelasnya.
"Kita datang dengan kekuatan, kita bertanding dengan kehormatan, dan kita pulang dengan kebanggaan," tambahnya.
Bagi CdM Todotua, lima emas ini bukan angka yang kecil. Ini adalah hasil yang sangat layak diapresiasi, sekaligus dijadikan bahan evaluasi untuk menatap perjalanan berikutnya.
"Di balik lima emas ini, ada begitu banyak perak dan perunggu yang sesungguhnya mengatakan satu hal: Indonesia sudah dekat. Indonesia punya potensi kuat. Indonesia punya masa depan hebat. Lalu, setelah ini adalah memastikan potensi itu mendapatkan persiapan, pembinaan, dan dukungan yang signifikan," tutupnya. ***
| Kategori | : | Asian Games, DKI Jakarta |













