Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
19 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
21 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
20 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
20 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
19 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
10 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Umum

PP IKA UNJ: Kurikulum Perlu Bentengi Anak dari Sisi Negatif Era Digital

PP IKA UNJ: Kurikulum Perlu Bentengi Anak dari Sisi Negatif Era Digital
Diskusi hybrid PP IKA UNJ bahas perlindungan pelajar dari sisi negatif era digital. (Ist)
Jum'at, 30 Oktober 2026 09:02 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (PP IKA UNJ) mendorong perubahan pendekatan pendidikan dalam menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.

Kurikulum formal dinilai perlu menjadi instrumen pencegahan untuk melindungi anak dari perundungan siber, kecanduan gawai, paparan konten berbahaya, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

 
Gagasan tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) Seri ke-3 yang diadakan PP IKA UNJ secara hybrid. Mengangkat tema "Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital", forum ini menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang tidak sekadar bereaksi terhadap masalah, tetapi mampu membekali peserta didik untuk mengenali dan mengantisipasi risiko sejak dini.
 
Mewakili panitia penyelenggara, Afif Yusuf mengatakan, ruang digital saat ini menghadirkan tantangan serius bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, pendekatan reaktif yang baru dilakukan setelah masalah muncul dinilai tidak lagi memadai.
 
Menurutnya, gawai di tangan anak dapat menghadirkan ancaman nyata, mulai dari perundungan siber, adiksi, hingga degradasi integritas akademik akibat AI. Pendekatan 'pemadam kebakaran' yang selama ini sering dilakukan oleh dunia pendidikan sudah usang. 
 
"Kita butuh langkah terstruktur; kurikulum formal harus bertransformasi menjadi perisai perlindungan, dan pendidik wajib hadir sebagai kompas moral," kata Afif, di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026).
 
Afif memaparkan, upaya perlindungan anak di era digital harus dimulai dari lingkungan pendidikan melalui penguatan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. 
 
"Sekolah tidak hanya berperan dalam mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan secara bertanggung jawab," tegasnya.
 
Ketua Harian PP IKA UNJ, Profesor Suherman Saji yang hadir mewakili Ketua Umum PP IKA UNJ Sugeng Suparwoto menekankan, pendidikan harus membekali murid dengan kemampuan melindungi diri dari berbagai risiko digital.
 
Ia menyebut, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari penguasaan pengetahuan akademik. Peserta didik juga perlu memiliki kesadaran etis, kecakapan mengenali ancaman, serta kemampuan mempertimbangkan konsekuensi dari aktivitas mereka di ruang digital.
 
"Kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan ilmu kognitif. Peserta didik harus memiliki kemampuan mengantisipasi risiko digital sebelum mereka menjadi korban atau pelaku. Di sinilah guru harus tampil sebagai penunjuk arah dan teladan," ungkapnya.
 
Dalam forum tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kawiyan mengingatkan, perlindungan anak di ruang siber tidak dapat hanya mengandalkan regulasi pemerintah, termasuk PP Tunas maupun Perpres Nomor 87 Tahun 2025.
 
Anak-anak berisiko terpapar konten berbahaya dan menjadi sasaran predator siber apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai. Untuk itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem digital yang aman bagi anak.
 
"Anak rentan terpapar konten berbahaya hingga incaran predator siber jika dibiarkan. Jangan biarkan anak-anak kita diasuh oleh gawai semata. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan platform digital harus bersinergi kuat membangun ekosistem yang aman," bebernya.
 
Selain perlindungan anak, diskusi juga menyoroti tantangan penggunaan AI generatif dalam proses pembelajaran. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNJ, Doktor Hadi Nasbey, mengajak para pendidik untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap mendukung proses berpikir kritis dan menjaga integritas akademik.
 
AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan jalan pintas yang menggantikan proses memahami, menganalisis, dan menghasilkan pemikiran secara mandiri.
 
"AI itu asisten, bukan pengganti proses berpikir manusia. Tantangan terbesarnya bukan sebatas pada kasus plagiasi instan, melainkan bagaimana kita mendidik anak agar jujur dalam prosesnya. Secanggih apa pun teknologinya, ia tidak akan pernah bisa menggantikan peran pendidik sebagai penjaga moral," imbuhnya.
 
Ia menegaskan, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam pembelajaran. Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mampu memanfaatkan AI secara bijak tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri maupun integritas akademik.
 
Sementara itu, Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ sekaligus moderator FDP Seri ke-3, Aan Harinurdin menuturkan, penguatan karakter dan empati manusia menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat.
 
Kecanggihan algoritma AI harus diimbangi dengan keteladanan nyata dari para pendidik. Kurikulum yang responsif terhadap teknologi juga harus tetap menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan utama pendidikan.
 
"Keteladanan moral hanya bisa ditularkan dari manusia ke manusia. Itulah tugas mulia pendidik untuk memanusiakan kurikulum kita di era digital," pungkas Aan. ***

Kategori:Umum, DKI Jakarta
wwwwww