Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
2
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
3
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
4
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
8 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
5
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Home  /  Berita  /  Nasional

Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi

Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi
Anggota DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. (Dok. Pribadi)
Minggu, 08 November 2026 15:07 WIB
Penulis: Anggota DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

KEKUASAAN adalah ujian paling telanjang bagi karakter manusia. Semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan untuk angkuh. Melihat ke bawah dengan dagu terangkat. Namun, ada anomali yang menyegarkan hari-hari ini. Anomali itu datang dari pucuk pimpinan Polri, Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto.

Publik menangkap citra yang belakangan terasa langka.

Seorang jenderal bintang empat yang begitu santun. Nada bicaranya tenang. Tertata. Jauh dari kesan sombong. Sikap ini memanen apresiasi luas. Di tengah lelahnya kita melihat pameran kekuasaan, gaya Kapolri Suyudi hadir laksana oase.

Melihat sosoknya, ingatan bangsa ini ditarik mundur. Pada satu nama legendaris: Jenderal Hoegeng Iman Santoso.

Bagi kita, Hoegeng bukan sekadar mantan Kapolri. Ia adalah monumen integritas.

Kita ingat gurauan abadi Gus Dur. Hanya ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.

Beliau dikenang bukan hanya karena anti-suap. Ia dikenang karena memanusiakan manusia. Ia memperlakukan rakyat kecil dan pejabat dengan kesantunan yang setara. Ia tegas tanpa perlu beringas. Berwibawa tanpa harus ditakuti.

Kesantunan dan kerendahan hati Kapolri Suyudi hari ini adalah modal berharga. Ini menunjukkan kecerdasan emosional. Menunjukkan empati. Dua pilar utama penyangga keadilan.

Namun, publik tentu menyimpan harapan lebih. Lebih dari sekadar sikap santun.

Harapan terbesar kita saat ini adalah melihat kesantunan tersebut bertransformasi. Menjadi keberanian tanpa kompromi. Kita berharap Kapolri Suyudi bisa menjadi Hoegeng di era saat ini.

Menjadi Hoegeng masa kini butuh nyali baja di balik tutur kata lembut. Berani membersihkan institusi dari oknum yang menciderai. Berani menolak intervensi politik. Menjadikan hukum murni sebagai panglima, bukan alat tawar-menawar.

Kesantunan Kapolri Suyudi harus jadi pelindung bagi rakyat kecil. Sekaligus menjadi palu godam bagi para mafia hukum.

Zaman memang telah berubah. Tantangan Polri hari ini jauh lebih rumit dibanding era 70-an. Kejahatan siber. Konflik kepentingan. Hingga sorotan tajam media sosial. Kursi Tri Brata Satu kini menjadi salah satu kursi paling panas di republik ini.

Namun, esensi harapan rakyat tidak pernah berubah. Kita merindukan sosok pengayom sejati. Kesantunan Kapolri Suyudi telah merebut hati publik di langkah awalnya. Kini, doa rakyat menyertai langkah selanjutnya.

Semoga kelak sejarah mencatat dengan tinta emas. Suyudi sekadar sebagai Kapolri yang santun. Tetapi sebagai "Hoegeng Modern" yang berhasil mengembalikan muruah Polri ke puncak tertingginya. ***

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Nasional, DKI Jakarta
wwwwww