Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
14 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
13 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
13 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
5
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
12 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
6
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
6 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Home  /  Berita  /  Badminton
Wonderful Indonesia 2016

Amazing, Tarian Jawa Trail Solo Hebohkan ITB Berlin 2016

Amazing, Tarian Jawa Trail Solo Hebohkan ITB Berlin 2016
Salah satu tarian kreasi yang ditampilkan di ITB Berlin 2016, Jerman.(net)
Minggu, 13 Maret 2016 00:45 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
BERLIN-JERMAN- Empat jenis tari kreasi baru bertema Nusantara betul-betul menghebohkan audience di ITB Berlin 2016. Dua laki-laki dan tiga perempuan asli Jawa Tengah yang tergabung dalam Kelompok Solo Dance Studio, Jawa Trail, itu tampil

Ke-4 gubahan Eko Pece Supriyanto, dancer yang ngetop setelah sukses menjadi penari latar Madonna itu adalah Tari Gondang Batak, Tari Tapak Sayap Berjapin, Tari Legong Kipas dan Tari Tregel Banyumasan. Musik tradisional Gondang Tapanuli, kombinasi fluit dan gendang khas Batak itu ditabuh dengan ritme cepat. Kelima penari itu, Putri Pramesti, Wirastuti, Astri Kusuma, Danang Cahyo dan Hafid Ponx menapak di atas panggung dengan gerakan khas wayang golek yang kaku-kaku lucu.

Ratusan orang yang menyaksikan sambil merekam dengan kamera HP-nya senyum-senyum sendiri. Terkadang ikut menggerakkan kepala, leher, pinggul, kaki dan tangannya. Mereka seperti terhipnotis untuk mengikuti sang penari yang semuanya lulusan S-2 ISI Surakarta, yang berpusat di Kampus Kentingan itu.

“Tari Gondang Batak ini memang kolaborasi antara vokabuler tari tradisi Jawa dengan music Batak. Ini tarian khusus selamat datang, di tampilkan biasanya di awal pertunjukan untuk memberi suasana ceria dan jenaka,” kata penari Putri Pramesti, yang lulus S-2 tahun 2014 itu.

Tarian yang menggunakan kostum Jawa itu bersarung batik itu dipuji banyak orang, termasuk menjadi objek foto-foto bagi bule yang ikut terkagum-kagum. Tari itu pernah ditampilkan di program Indonesia Mencari Bakat tahun 2103, mengiringi Sandrina, si penari jaipong yang kecil itu.

“Tari ini juga pernah ditampilkan di Dance Box Festival di Osaka Jepang, 2006. Durasinya sebenarnya bisa 9-10 menit, tapi di Berlin hanya dimainkan 5 menit saja,” tambah Danang, Asisten Dosen Koreografi ISI Solo itu.

Beda lagi dengan tarian Tapak Sayap Berjapin Melayu, yang sama-sama ciptaan Eko Pece. Tari ini sangat Melayu, dengan music yang khas. “Tarian ini pernah menjadi juara favourite di Festival Tari Tradisi Melayu 2009 di Palembang. Koreografernya saat itu Faturrahman Bin Said, orang Singapura. Kami mewakili Jawa Tengah,” jelas Putri yang kuliahnya mengambil jurusan Pengkajian Seni itu.

Tapak Sayap juga pernah tampil di SIPA –Solo International Performing Art 2010 di Pura Mangkunegaran. Lalu ditampilkan lagi di Solo 24 Jam Non Stop Menari 2012. Tarian yang betul-betul baru ditampilkan di ITB Berlin ini adalah Legong Kipas, yang terinspirasi dari Tarian Legong dan Tari Baris. Sama-sama etnik Bali. “Kami sudah tampil saat press conference di ITB Berlin,” ujar Hafid Ponx.

Sedangkan Tari Tregel Banyumas, baru akan dikeluarkan 13 Maret 2016, di Hari Minggu yang ramai pengunjung umum. Tarian ini lebih dinamis, lebih rancak, lebih ceria. Tarian berpasangan, muda-mudi, dan penuh atraktif. Tarian ini juga tergolong paling komunikatif. “Jadi nanti mengajak penonton untuk ikut menari,” sebut Astri Kusuma, istri Eko Pece yang juga ikut menari.

Berapa lama berlatih sehingga lincah di atas panggung? Seolah sudah hafal gerakan kiri kanan, bolak-balik, depan belakang? “Satu bulanlah,” jawab Astri yang S-2 nya mempelajari Penciptaan Seni tersebut.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi tari-tarian anak-anak Kelompok Solo Dance itu. “Penampilannya oke, gerakannya gesit, kelihatan sekali mereka mempelajari filosofi menari. Semua jenis tariannya dibawakan dengan sangat menghibur dan penuh keceriaan,” kata Arief Yahya yang juga penggemar cerita wayang Jawa. (*/dnl)

wwwwww