Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
2
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
3
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
7 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
6
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Home  /  Berita  /  Badminton
Masyarakat Terbiasa Hidup dengan Limbah B3

KLH Kota Dumai Tahu Limbah B3 Dipakai Masyarakat, Bambang Surianto : Dampaknya Jangka Panjang

KLH Kota Dumai Tahu Limbah B3 Dipakai Masyarakat, Bambang Surianto : Dampaknya Jangka Panjang
Limbah B3 jenis spent bleaching earth yang digunakan oleh masyarakat di Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Riau, sebagai tanah timbun.
Rabu, 13 April 2016 15:57 WIB
Penulis: Eric
DUMAI - Adanya temuan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dipergunakan oleh masyarakat Kota Dumai, Riau, di Kecamatan Sungai Sembilan, ternyata sudah diketahui oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Dumai.

Informasi yang dirangkum GoRiau.com, masyarakat yang sudah mengetahui itu merupakan limbah B3, tetap digunakan sebagai tanah timbun (spent bleaching earth, fly ash dan bottom ash) dan bahan pembuatan batako pres. Masyarakat sendiri tidak mengetahui apa dampaknya menggunakan limbah tersebut.

Dimana sewaktu hari panas, spent bleaching earth akan mengeluarkan minyak dan mempengaruhi lingkungan sekitar. Dalam kondisi hujan, minyak yang keluar dari spent bleaching earth meresap ke dalam sumber air dangkal, sehingga sumur bor akan berbau dan berminyak.

Hal itu diakui oleh Kepala Kantor (Kakan) Lingkungan Hidup Kota Dumai, Bambang Surianto saat ditemui GoRiau.com, Rabu (13/4/2016) di kantornya. Dimana pihaknya sedang melakukan penyelidikan atas digunakannya limbah B3 oleh masyarakat Kota Dumai.

"Kita memang sudah mengetahuinya. Namun masih kita selidiki terlebih dahulu. Perusahaan mana yang memberikan begitu saja ke masyarakat, untuk digunakan sebagai tanah timbun. Karena dampak limbah B3 tersebut dalam jangka waktu yang panjang, saat memang tidak terasa," ujarnya.

Ia menjelaskan, spent bleaching earth merupakan limbah B3 kategori 2. Dimana seharusnya, limbah B3 terlebih dahulu diolah menggunakan alat khusus. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, seharusnya perusahaan cpo di Dumai harus dapat mengkelola limbah B3 dengan baik dan sesuai aturan.

"Ada 10 perusahaan di Dumai yang mengkelola Crude Palm Oil (CPO). Dimana dalam sehari limbah B3 jenis spent bleaching earth, fly ash dan bottom ash, dihasilkan oleh perusahaan sebanyak 30 ton sampai 40 ton," ulasnya.

Ia juga mengatakan, Kota Dumai belum memiliki alat khusus untuk mengkelola limba B3, agar bisa digunakan oleh masyarakat. Dimana alat tersebut, digunakan untuk mengurangi kandungan minyak didalam spent bleaching earth dari 20 persen, menjadi 1 persen sampai 5 persen.

"Alangkah baiknya, jika menjadi 0,1 persen kandungan minyaknya. Sehingga spent bleaching earth bisa digunakan oleh masyarakat sebagai bahan baku batako pres dan tanah timbun," tutupnya menjelaskan kepada GoRiau.com. ***

Kategori:Olympic, Badminton
wwwwww