Gelar Renungan Kebangkitan Nasional, Asia Africa Reading Club: Bung Karno Cermin Bangsa Pembaca

Gelar Renungan Kebangkitan Nasional, Asia Africa Reading Club: Bung Karno Cermin Bangsa Pembaca
Sesi foto bersama Pustaka MPR dengan Asia Africa Reading Club. (Muslikhin/GoNews Group)
Kamis, 26 Mei 2016 19:40 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA- Bung Karno adalah salah satu sosok 'well informed', (seseorang yang menguasai informasi dan pengetahuan) yang dibutuhkan oleh pekerjaan dan perjuangannya demi terwujudnya sebuah negara bangsa.

Hal ini terjadi karena Bung Karno tergolong orang yang 'well read', membaca segala hal dengan tertib, runut dan berakar pada khazanah budaya bangsanya. Terlebih dalam merumuskan landasan idi’il dan pandangan hidup sebuah bangsa.

Bung Karno dengan seksama telah mengenal baik yang menjadi ciri khas jiwa bangsanya.

?Demikian dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Asia Africa Reading Club, Adew Habsta, dalam acara Renungan Kebangkitan Nasional. Mengisi acara tersebut, pihaknya juga menggelar tadarus buku bertema “Menjadi Bangsa Pembaca” bersama Perpustakaan MPR RI dalam bicara buku pustaka, pada Kamis (26/05/2016) malam, di Jalan Diponegoro 20, Bandung.

"Dari pengamatan yang mendalam terhadap segala kenyataan zaman saat itu, melalui pembacaan dan pengembaraan yang intens atas teks yang berkutat pada roh kebangsaan, maka dengan sendirinya telah menghimpun berbagai gagasan pemikiran ihwal yang menjadi landasan kekuatan dalam gerak hidup berbangsa dan bermasyarakat. Dan kehadiran Pancasila kiranya menjadi panduan dalam berpola yang lebih terarah. Ya.. Bung Karno telah menjadi juru bicara paling jitu untuk kebersatuan negeri yg luas ini,” katanya.

Dalam acara tersebut, diikuti para anggota komunitas buku dari Asia Africa Reading Club, Lingkar Pena Bandung dan Komunitas buku Bandung lautan Api serta para pustakawan. Buku bertema ‘Menjadi Bangsa Pembaca’ yang ditulis Adew Habsta mempunyai relevansi dengan kebangkitan bangsa dan momentum Pidato Bung Karno 1 Juni 1945.

Menurut Adew Habsta, menjadi bangsa pembaca dengan kebangkitan nasional mempunyai kaitan yang tentu saja sangat lekat.

“Mana mungkin seseorang akan bangkit, tanpa ada upaya pembacaan atas diri dan lingkungan sekitarnya. Membaca menjadi salah satu cara yg ampuh untuk memetakan diri, menempatkan minat, memunculkan potensi, lebih jauh menumbuhkan motivasi demi prestasi terbaik. Tanpa membaca, mustahil semua orang akan mengenal dirinya, pun identitas kebangsaannya,” tegas Adew Habsta yang dikenal sebagai penggiat literasi dan kepustakaan di kalangan remaja, pemuda dan dewasa.

"Tentu saja menjadi bangsa pembaca yang menyerap ilmu pengetahuan baik yang tersirat maupun yang tersurat adalah sebuah keniscayaan. Tak ada pilihan lain, jika memang hendak bangkit bersama menuju peradaban yang lebih mulia, maka membaca kiranya menjelma sebagai bentuk ikhtiar yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga diri dan keutuhan tatanan bangsa,” timpalnya lagi.

?Tadarus buku ini, menurut Lelyana Mei dari Cemara Educraft, adalah kegiatan membahas sebuah buku yang telah dipilih temanya dengan cara membaca dari halaman pertama buku tersebut. Semua yang hadir kebagian giliran membaca isi buku tersebut. Pembacaan dilakukan secara lantang dan dapat di dengar oleh seluruh yang hadir. ***


wwwwww