Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
17 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
15 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
18 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
18 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
20 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
17 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Badminton

YGHL Pertanyakan Kompensasi Hutan Aceh Selatan Sebagai Paru-paru Dunia

YGHL Pertanyakan Kompensasi Hutan Aceh Selatan Sebagai Paru-paru Dunia
Ilustrasi hutan lebat
Selasa, 23 Agustus 2016 22:31 WIB
Penulis: Al Fahd Radi Fahlefi
TAPAKTUAN -  Direktur Yayasan Gampong Hutan Lestari (YGHL) Aceh Selatan, Sarbunis mempertanyakan kompensasi  Kawasan Ekosistim Leuser (KEL), terhadap perubahan iklim dunia. Sejauh ini, daerah belum mendapat apapun dalam melestarikan hutan lindung.

"Aceh Selatan memiliki 2/3 KEL di Provinsi Aceh, di antaranya sejumlah kawasan rawa gambut dan hutan lindung. Seperti rawa  suaka margasatwa Singkil dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Hutan-hutan ini, merupakan cadangan korbohidrat untuk mengurangi panas bumi dunia," papar Sarbunis, Selasa (23/8/2016) di Gedung DPRK Aceh Selatan.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) pembahasan Rancangan Qanun (Raqan) RPJM Aceh Selatan 2013-2018 diuraikan, Pemda dan masyarakat sudah menjaga dan melestarikan keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia. Namun apa yang diperoleh sebagai kompensasinya.

"Saya rasa selama ini Aceh Selatan tidak mendapatkan Corporate Soscial Responsibility (CSR) dari negara-negara maju dan industri. Sementara karbohidrat dibutuhkan dari hutan Aceh Selatan untuk mengurangi panas bumi. Pemerintah daerah harus mencari peluang dan menerobos titik kendala, penyebab tidak mendapat kompensasi ini," tukasnya.

Menurut Sarbunis, Pemkab Aceh Selatan pernah mendidik putra daerah ke Bogor, Jawa Barat. Tujuannya, agar daerah memiliki SDM dalam menginplementasikan produksi karbonhidrat. Namun semua itu sia-sia, daerah tetap tidak memiliki keuntungan.

Kepada GoAceh dijabarkan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perancis tentang perubahan iklim dunia. Negara-negara maju dan industri sepakat memberikan kompensasi kepada negara yang memiliki hutan penghasil karbanhidrat.

"Pertanyaannya, di mana CSR itu nyangkut sehingga tidak pernah sampai ke Aceh Selatan. Jika sebagian dana kompensasi itu diperoleh, maka daerah tidak terlalu sulit menggali PAD seperti dirumuskan dalam draf RPJM," pungkas direktur YGHL.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:PON, Badminton
wwwwww