Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
18 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
12 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
12 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
12 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
17 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Badminton

Hari Aksara harus Dijadikan Bahan Refleksi

Hari Aksara harus Dijadikan Bahan Refleksi
Sekumpulan siswi SD sedang membaca buku untuk menambah wawasan mereka (ilustrasi/google.com)
Minggu, 11 September 2016 19:23 WIB
Penulis: Yusuf Ahmad

MEDAN - Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap 8 September harusnya dijadikan sebagai bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia. Sebab, aksara yang tak dapat dilepaskan dari dunia literasi dan membaca, sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.


Inisiator Gerakan Boemi Poetera, Tengku Zainuddin mengatakan, masalah tersebut harusnya dapat menjadi bahan refleksi masyakarat Indonesia dalam memeringati Hari Aksara Internasional.

"Aksara mengarah pada literasi. Kalau kita bicara literatur, sangat banyak yang kita miliki. Hanya saja, literatur itu memfosil di rak-rak buku dan perpustakaan," kata Zainuddin saat diwawancarai GoSumut, Minggu (11/9/2016).

"Kemampuan cendekiawan kita yang tidak dapat dinikmati khalayak banyak, itu akan menyebabkan masyarakat lupa dan meninggalkan budaya dan leluhurnya," timpalnya kembali.

Untuk itu, dirinya menekankan, budaya membaca dan literasi harus diperkuat untuk menghadapi dinamika zaman.

"Budaya membaca dan literasi sangat penting untuk menghadapi zaman. Kita harus kuatkan itu. Dan ingat, membaca tidak hanya membaca tulisan, tapi juga membaca fenomena yang ada," pungkasnya.

Editor:Arif
Kategori:Badminton, Umum, PON
wwwwww