Mantan Menteri Pertanian Malaysia: Perantau Jangan Lupa Kampungnya
![]() |
| Silaturahmi Nasional Taman Iskandar Muda dan Masyarakat Aceh Serantau di Jakarta, Minggu (18/9/2016). [Istimewa] |
Demikian Orasi Tan Sri Sanusi Djuned pada acara Silaturahmi Nasional Taman Iskandar Muda dan Masyarakat Aceh Serantau di Jakarta, Minggu (18/9/2016). Sanusi menyebutkan untuk membangun Aceh sangat dibutuhkan sumber daya manusia, itu di butuhkan pendidikan yang beradab dan beragama.
Diakui dirinya berdasarkan pengalamanya kuliah di Inggris dan Jerman dan lain-lain. Pendidikan di Jerman dan Inggris, kualitas sebuah daerah/negara sangat ditentukan oleh sumber daya pendidikan. Sumber daya alam bisa habis karena di kuras, namum sumber daya manusia tidak akan pernah habis apabila dikelola dengan sebaik baiknya.
"Selama 30 tahun saya menjabat sebagai tangan kanan Perdana Menteri Malaysia (Mahathir Muhammad) sukses membangun Malaysia dengan pendidikan, tanpa pendidikan Qurani maka pendidikan umum akan hancur. Kedua pendidikan ini mesti berbarengan untuk mewujudkan generasi Qurani," katanya.
Dalam orasi ilmiahnya selama 1 jam lebih di hadapan 400 lebih undangan masyarakat Aceh seluruh Indonesia, mantan Sekretaris Umno (partai politik terbesar Malaysia) itu menjelaskan pengalaman dirinya sejak lahir di Kedah Malaysia kemudian sekolah di Penang dan di seluruh dunia, menjelaskan bahwa ada 21 filosofi hidup orang Aceh.
Di antaranya meuru'ah (jatidiri), seperti semangat kerja yang tinggi, menjunjung harga diri dan berwawasan luas.
"Kita butuh pemimpin Aceh yang mempunyai 21 nilai filosofi hidup orang Aceh," sebut Sanusi Djuned yang menikah dengan Puan Sri Datin Seri Nila Inangda, cucu Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Pada kesempatan yang sama Ketua Umum PP TIM DR Surya Dharma, orang Aceh bisa tumbuh dan berkembang di manapun. Contoh Tan Sri Sanusi Djuned menjadi Menteri di Malaysia.
"Semua itu bisa kita lakukan, asalkan kita sepakat sambung Surya Dharma," paparnya.
Sementara itu Ketua Panitia pelaksana silaturahim masyarakat Aceh, Banta Umar B Alwi menjelaskan, acara ini diselenggarakan untuk memperkuat kembali hubungan rakyat Aceh perantau yang telah digagas Mustafa Abubakar (mantan Ketua Umum PP TIM) pada 2006. "Kami Selaku panitia pelaksana sangat bersyukur atas kehadiran 11 perwakilan organisasi masyarakat Aceh serantau," ucap Banta Umar
Dalam laporannya, panitia pelaksana mengatakan tindak lanjut dari silaturahim ini adalah membangun komunikasi sesama perantau. Komunikasi yang terjalin di sini akan berlanjut di berbagai perwakilan organisasi masyarakat Aceh, termasuk Bandung, Surabaya dan kemungkinan di Kuala lumpur.
Acara ini berakhir dengan pembacaan ikrar bersama masyarakat Aceh Serantau yang dipimpin oleh ketua PP TIM dan dibacakan oleh Ketua IKAMABA Bandung. Intinya akan meningkatkan kebersamaan bersama masyarakat Aceh yang terhimpun dalam masyarakat Aceh Serantau.
Ikrar ini kemudian ditandatangani oleh 11 perwakilan Aceh, meliputi IKAMABA Bandung, KTR Surabaya, HIMA Yogyakarta, Aceh Sepakat Sumut, PERMASA Kepri, PERMASA Riau, IMAS Makassar, IMAM Malaysia, HIMA Kaltim dan HIMMA Sulsel.
Disertai dengan penyerahan bungoeng jaroe (plakat) yang diserahkan oleh Ketua Majelis Mufakat Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (TIM) Mayjen (Purn) Iskandar Ali didampingi oleh Ketua Umum PP TIM Surya Dharma dan Teuku Banta.













