Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
17 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
16 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
10 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
10 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
11 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
23 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Home  /  Berita  /  Badminton
'Sapu Bersih Pungli'

Soal Pungli, Kadiv Humas Mabes Polri Akui Birokrasi Berbelit Menjadi Ruang Bagi Pelaku Termasuk di Kepolisian

Soal Pungli, Kadiv Humas Mabes Polri Akui Birokrasi Berbelit Menjadi Ruang Bagi Pelaku Termasuk di Kepolisian
Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar. (istimewa)
Sabtu, 15 Oktober 2016 16:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Rumitnya sistem birokrasi di Indonesia menjadi peluang dan dimanfaatkan sejumlah oknum untuk melakukan kegiatan pungli, bukan hanya di jajaran pemerintahan namun juga masih terjadi di kalangan pejabat hukum seperti Polri.

Hal ini diakui Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Amar saat menjadi pembicara dalam acara diskusi, Sabtu (15/10/2016). "Kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kewenangan-kewenangan yang dimiliki kadang berbenturan dengan masyarakat. Disatu pihak memang masyarakat yang menginginkan segala sesuatu diproses cepat, sementara terkadang sistem birokrasinya gak bisa cepat," ujarnya.

"Dalam posisi sangat membutuhkan, ini memang terjadi proses antara kebutuhan aparat pemerintah dengan masyarakat yang tidak sehat disini. Yang berkuasa merasa punya kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan, katakanlah, meneliti, memperlambat dan bahkan sebaliknya bisa mempercepat namun dengan syarat tertentu," timpalnya.

Akibatnya kata Boy, situasi semacam itu menjadi ada semacam bargaining yang sebetulnya katakanlah peluang itu terjadi.

"Nah Ini kadang-kadang juga menjadi stimulan untuk katakanlah suatu perbuatan korup itu. Ini kembali kepada suatu ungkapan (untuk petugas) yang biasa kita kenal dengan "Kalau Bisa Diperlambat Kenapa Harus Dipercepat". Harus kita akui ini yang terjadi di kalangan birokrasi kita, bukan hanya di instansi pemerintahan saja tapi juga auto kritik untuk kita (Polri)," ujarnya.

Jadi menurut dia, aparat Kepolisian juga jangan senang-senang, karena ketika melakukan pelayanan publik dan terbukti salah, hukum akan akan tetap dijalankan.

"Jangan mentang Polisi terus seenaknya, besok-besok ketahuan dan ditangkap jangan kaget," tukasnya.

Penegakan hukum dan pemberantasan pungli ini kata Boy, sudah mulai digalakkan dan sudah ada instruksi langsung dari Presiden Jokowi. "Bukan hanya keluar, tapi ke dalam kita juga melakukan operasi bersih. Jadi operasi sapu bersih pungli ini sudah mulai digalakan, saya ingatkan kembali bagi petugas baik itu Dinas Perhubungan, Polri, TNI atau instansi apapun stop pungli itu," pungkasnya. ***

wwwwww