Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
15 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
15 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
16 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
8 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Jawa Tengah

Nekat, Tanpa Dana APBN dan Persetujuan Menpora, KONI Tetap Akan Menggelar PON Remaja

Nekat, Tanpa Dana APBN dan Persetujuan Menpora, KONI Tetap Akan Menggelar PON Remaja
Rapat Koordinasi KONI Pusat. (Azhari/GoNews)
Kamis, 20 Oktober 2016 18:48 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Sebanyak 34 KONI Provinsi mendorong Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja 2017 di Jawa Tengah tetap dijalankan sesuai rencana dalam Rapat Koordinasi KONI Pusat dan KONI Provinsi Se-Indonesia di Hotel Atlet Century Park Jakarta, 19-20 Oktober 2016. Padahal, biaya pelaksanaan ajang dua tahunan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Jateng karena Kemenpora tak mengucurkan dana.

Hadir dalam pertemuan itu perwakilan Kemenpora yang diwakili Juru Bicara Kemenpora Gatot Dewa Broto dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jateng Budi Santoso. Gatot Dewa Broto mengatakan, pihaknya mempersilakan Jateng dan KONI untuk menggelar PON Remaja sesuai rencana awal.

Namun, Kemenpora meminta maaf tidak bisa membantu pembiayaan sepeserpun mengingat ada efisiensi anggaran. "KONI masih berpeluang menggelar PON Remaja, tapi mohon maaf kami tidak bisa mengeluarkan dana. Untuk tahun depan, anggaran lebih banyak terserap pada Asian Games 2018," ujarnya.

Meski tak melarang, namun Kemenpora tidak akan mencabut surat rekomendasi pembatalan PON Remaja yang sudah dikirim ke Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, 14 Oktober lalu.

Justru pihaknya menyarankan agar Gubernur Jateng menyurati Kemenpora yang berisi siap menjadi tuan rumah PON Remaja pada tahun depan. "Kami beri peluang (PON Remaja) tetap jalan. Makanya kami tawarkan ke Jateng, silakan menyurati Pak Menteri (Menpora Imam Nahrawi) secepat mungkin. Pak Menteri pada dasarnya sangat terbuka untuk masalah ini. Kalau untuk surat rekomendasi (pembatalan PON Remaja), tetap seperti itu sampai adanya sikap dari Pak Menteri," ungkap Gatot.

Pada kesempatan itu, Gatot juga diberondong pertanyaan kenapa KONI tidak diajak komunikasi terlebih dulu sebelum menerbitkan surat rekomendasi peniadaan PON Remaja. Selain itu, Kemenpora dinilai janggal jika tidak menganggarkan PON Remaja sejak awal.

Menurut Gatot, Menpora punya hak prerogatif untuk memutuskan iya atau tidaknya sebuah even dilaksanakan. Sedangkan mengenai anggaran, dia akhirnya mengaku kalau PON Remaja sudah dianggarkan sejak lama.

Namun mulai Agustus 2016, terjadi dinamika dalam olahraga nasional sehingga harus mengorbankan PON Remaja. "Dinamika olahraga berubah akhir-akhir ini. Kami melakukan simulasi, akhirnya ada perubahan-perubahan dan kami harus memilih Popnas (Pekan Olahraga Nasional Pelajar)," jelasnya.

Untuk pelaksanaan, Kadispora Jateng Budi Santoso menyatakan, pihaknya perlu melobi DPRD Jateng untuk membicarakan lagi anggaran untuk PON Remaja. Sebab, setelah terbitnya surat rekomendasi pembatalan PON Remaja dari Menpora, anggarannya dialihkan ke pos lain.

"Anggaran sudah dialihkan walau belum digedok Dewan. Hitung-hitungan waktu, kami masih bisa negosiasi dengan Dewan, nanti tanggal 1 November sudah dibahas Dewan," jelasnya.

Pihaknya juga meminta saran kepada peserta rapat, apakah PON Remaja dijalankan sesuai jadwal semula pada Juni 2017 atau ada penundaan waktu. Jika ditunda, lanjut dia, anggaran untuk menutupi kekurangan yang semestinya dari Kemenpora bisa dioptimalkan. "Jadi lebih penting mana, penundaan waktu atau tetap jalan. Atau dengan pembatasan cabor untuk penghematan. Apalagi nanti juga ada Popnas. Kalau cabor di luar Popnas bagaimana, toh atlet PON Remaja dengan Popnas sama. Saya pikir 99 persen atlet PON Remaja adalah pelajar. Mereka tidak ada yang tidak sekolah, semua sekolah," terangnya.

Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman berharap Pemprov Jateng segera bersurat ke Menpora bahwa PON Remaja II tetap akan digelar. Menurutnya, PON Remaja bukan kepentingan KONI, melainkan juga kepentingan negara. Sebab, ajang du tahunan ini untuk menjaring atlet berpotensi untuk dikirim mengikuti Asian Youth Games dan Olympic Youth Games.

"Kalau soal anggaran, semestinya pemerintah bisa 20 persen. Tapi karena pemerintah tidak bantu dana, bisa saja ditanggung bersama dari KONI-KONI lain. Bisa fifty-fifty atau mungkin 2/3 pertiga ditanggung tuan rumah. Jadi masih banyak solusi. Ini kan juga penghematan anggaran, untuk atlet tidak harus tidur di hotel, bisa di asrama-asrama. Kan banyak di sana," ujarnya. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Voli, Olympic, Non Olympic, DKI Jakarta, Jawa Tengah
wwwwww