Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
19 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
13 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
12 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
13 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
13 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
18 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  PON

Derita Tumor, Bocah Singkil Ini Terpaksa Berhenti Sekolah

Derita Tumor, Bocah Singkil Ini Terpaksa Berhenti Sekolah
Perliandi bocah penderita tumor dileher didampingi keluarganya saat ditemui GoAceh, Selasa (8/11). [Helmi]
Selasa, 08 November 2016 16:20 WIB
Penulis: Helmi
SINGKIL - Perliandi, bocah berusia 11 tahun, terpaksa berhenti sekolah sejak setahun lalu, ketika masih duduk di kelas 4 SD. Pasalnya, penyakit tumor yang dideritanya saat ini kian membesar seperti bola.

Perliandi, murid SD Negeri 1 Gunung Meriah itu merupakan putra pertama dari dua bersaudara perkawinan Mazli (33) dengan Parida (30) warga Gampong Tanjung Betik Kecamatan Gunung Meriah di Komplek Perumahan BRR.

Mazli mengisahkan, awalnya anaknya hanya menderita penyakit kelenjar getah bening di leher dan baru sebesar kelereng. Penyakit yang baru diketahui saat bulan Ramadan 2014 itu tidak terlalu dihiraukan, karena tidak menimbulkan efek sakit dan tidak mengeras saat dipegang.

Namun, kedua orangtuanya pun mulai khawatir setelah benjolan di leher putranya itu terus membesar dan akhirnya didiagnosis menjadi tumor meski tidak ganas.

Lantas, atas saran keluarga dan kerabat lainnya, mereka berupaya melakukan perobatan sampai ke Medan di RS Marta Friska setelah mendapat rujukan dari RSUD Aceh Singkil.

Awalnya dilakukan CT Scan di RS Putri Hijau dan rujuk ke RS Adam Malik. Hasil diagnosis Perliandi terkena kelenjar getah bening, atau bahasa kedokteran Chronic Inflamatory Prosesspesifik Tuberculose.

Dengan keterbatasan ekonomi meski pengobatan anaknya ditanggung BPJS namun mereka tidak mampu jika harus bertahan di Medan untuk biaya pendamping anaknya itu. Maklum ayahnya hanya pekerja serabutan, sebagai pemasang stiker mobil dan sepeda motor.

"Untuk bisa makan sehari-hari saja sudah syukur, apalagi biaya harus menjalani pengobatan di Medan," keluh Mazli kepada GoAceh, di kediamannya, Selasa (8/11/2016).

Selain pengobatan medis yang sempat membuat kewalahan mencari biaya pendampingan di Medan, keluarga juga membawa Perliandi berobat ke alternatif sampai ke Subulussalam dan Tapanuli Tengah.

Namun hasilnya tetap tidak membuahkan hasil, benjolan di leher Perliandi terus membesar. "Kami tidak menyangka benjolan kecil itu bisa berakibat fatal sampai jadi sebesar itu," tutur Parida yang terus mendekap putranya itu.

Mungkin karena penyakitnya itu, saat tidur Perliandi selalu menggigau. Sudah setahun ini dia tidak masuk sekolah lagi, karena takut lehernya tersenggol-senggol saat bermain, dan sekarang dia hanya di rumah saja.

Begitupun Mazli mengaku, anaknya akan kembali berangkat ke Banda Aceh untuk menjalani pengobatan di RSUZA, yang difasilitasi rumah singgah Blood For Life Foundation (BFLF) yang akan membantu pendampingan Perliandi.

"Sore ini, Selasa (8/11) BFLF akan membawa anak kami berangkat ke Banda Aceh untuk berobat, BFLF yang akan membantu pendampingan pengobatan selama di Banda Aceh. Mohon doa dan bantuannya agar anak saya bisa sembuh dan kembali sekolah," harap Mazli.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:PON
wwwwww