Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
10 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
22 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
3
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
10 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
11 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
10 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
20 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Home  /  Berita  /  Badminton

Selain Diperlakukan Secara 'Tak Manusiawi', Para Penghuni Panti Yayasan Tunas Bangsa Juga Disuruh Mengemis

Selain Diperlakukan Secara Tak Manusiawi, Para Penghuni Panti Yayasan Tunas Bangsa Juga Disuruh Mengemis
Kondisi panti jompo dan gangguan jiwa di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru milik Yayasan Tunas Bangsa (foto: chairul hadi/goriau.com)
Minggu, 29 Januari 2017 15:59 WIB
Penulis: Barkah Nurdiansyah
PEKANBARU - Banyak hal miris dan sangat memprihatinkan ditemukan di panti-panti milik Yayasan Tunas Bangsa yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Lili. Selain dugaan kasus penganiayaan balita 18 bulan hingga tewas, hingga penelantaran penghuni panti jompo.

Tak hanya menelantarkan dan perlakukan penghuni pantinya dengan sangat tak manusiawi, bahkan pemilik panti juga mempekerjakan penghuni panti untuk mengemis dan meminta-minta disejumlah pusat keramaian masyarakat.

Hal itu, terungkap saat panti jompo Yayasan Tunas Bangsa, jalan Cendrawasih, Gang Nuri, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, didatangi pihak LPA Riau bersama tim Dinas Sosial (Dissos) Riau, Sabtu (28/1/2017) tadi malam.

"Saya kadang disuruh keluar, dibawa ke terminal, pelabuhan dan jembatan untuk minta-minta uang ke orang-orang (mengemis)," kata salah seorang penghuni panti yang sempat ditemui GoRiau.com (GoNews Grup) sebelum evakuasi.

Sontak, pengakuan dari salah seorang penghuni panti yang mengalami depresi akibat diperlakukan secara tak manusiawi, layaknya seorang tahanan itu, membuat warga sekitar yang ikut menyaksikan, kaget dan menyayangkan sikap pemilik panti.

"Ini tak wajar, kami kira disini panti jompo biasa. Memang kami, malah RW dan RT juga tak diperbolehkan masuk ke dalam panti," kata salah seorang warga sekitar yang menyaksikan proses evakuasi penghuni panti oleh pihak Dissos Riau.

Tak hanya panti jompo di jalan Cendrawasih, Gang Nuri, Kecamatan Marpoyan Damai, saja yang didatangi LPA Riau dan Dissos Riau. Minggu (29/1/2017) siang, LPA Riau bersama Kemensos dan Diskes Riau juga mendatangi panti khusus gangguan jiwa milik Yayasan Tunas Bangsa di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

BACA JUGA:

. Sering Dipukul, Cerita Pilu Penghuni Panti KM 20 Milik Yayasan Tunas Bangsa ini Bikin Orang Terbelalak

. Astagfirullah! Begini Kondisi Panti Jompo dan Gangguan Jiwa di KM 20 Milik Yayasan Tunas Bangsa, 'Betul-betul Tak Manusiawi'

Di sana, panti khusus gangguan jiwa itu berada dipelosok hutan, dengan akses hanya jalan tanah dan jauh dari aktivitas masyarakat, yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Terdapat 19 penghuni panti yang mengalami depresi serta gangguan jiwa, fasilitas bagi penghuni panti lebih buruk, jika dibandingkan dengan panti-panti lainnya milik Yayasan Tunas Bangsa.

Ruangan-ruangan kamar penghuni panti tak diberi penerangan, dan jika malam hari panti tersebut sangat gelap. Tak ada yang mencurigai panti tersebut, karena jauh dari aktivitas dan jarang ditempuh masyarakat.

Selain diperlakukan tak manusiawi, beberapa penghuni juga disuruh untuk meminta sumbangan kepada pengendara yang melintas di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

Bahkan di sana, para penghuni panti yang merupakan pengidap gangguan jiwa, kerap dianiaya, dipukuli oleh pengelola panti, tanpa sebab yang jelas. Sementara penghuni panti, dipaksa tinggal di ruang sempit tanpa dilengkapi toilet yang layak dan dikunci dari luar.***

wwwwww