Selain Diperlakukan Secara 'Tak Manusiawi', Para Penghuni Panti Yayasan Tunas Bangsa Juga Disuruh Mengemis
![]() |
| Kondisi panti jompo dan gangguan jiwa di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru milik Yayasan Tunas Bangsa (foto: chairul hadi/goriau.com) |
Penulis: Barkah Nurdiansyah
Tak hanya menelantarkan dan perlakukan penghuni pantinya dengan sangat tak manusiawi, bahkan pemilik panti juga mempekerjakan penghuni panti untuk mengemis dan meminta-minta disejumlah pusat keramaian masyarakat.
Hal itu, terungkap saat panti jompo Yayasan Tunas Bangsa, jalan Cendrawasih, Gang Nuri, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, didatangi pihak LPA Riau bersama tim Dinas Sosial (Dissos) Riau, Sabtu (28/1/2017) tadi malam.
"Saya kadang disuruh keluar, dibawa ke terminal, pelabuhan dan jembatan untuk minta-minta uang ke orang-orang (mengemis)," kata salah seorang penghuni panti yang sempat ditemui GoRiau.com (GoNews Grup) sebelum evakuasi.
Sontak, pengakuan dari salah seorang penghuni panti yang mengalami depresi akibat diperlakukan secara tak manusiawi, layaknya seorang tahanan itu, membuat warga sekitar yang ikut menyaksikan, kaget dan menyayangkan sikap pemilik panti.
"Ini tak wajar, kami kira disini panti jompo biasa. Memang kami, malah RW dan RT juga tak diperbolehkan masuk ke dalam panti," kata salah seorang warga sekitar yang menyaksikan proses evakuasi penghuni panti oleh pihak Dissos Riau.
Tak hanya panti jompo di jalan Cendrawasih, Gang Nuri, Kecamatan Marpoyan Damai, saja yang didatangi LPA Riau dan Dissos Riau. Minggu (29/1/2017) siang, LPA Riau bersama Kemensos dan Diskes Riau juga mendatangi panti khusus gangguan jiwa milik Yayasan Tunas Bangsa di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.
BACA JUGA:
Di sana, panti khusus gangguan jiwa itu berada dipelosok hutan, dengan akses hanya jalan tanah dan jauh dari aktivitas masyarakat, yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.
Terdapat 19 penghuni panti yang mengalami depresi serta gangguan jiwa, fasilitas bagi penghuni panti lebih buruk, jika dibandingkan dengan panti-panti lainnya milik Yayasan Tunas Bangsa.
Ruangan-ruangan kamar penghuni panti tak diberi penerangan, dan jika malam hari panti tersebut sangat gelap. Tak ada yang mencurigai panti tersebut, karena jauh dari aktivitas dan jarang ditempuh masyarakat.
Selain diperlakukan tak manusiawi, beberapa penghuni juga disuruh untuk meminta sumbangan kepada pengendara yang melintas di jalan Lintas Timur KM 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.
Bahkan di sana, para penghuni panti yang merupakan pengidap gangguan jiwa, kerap dianiaya, dipukuli oleh pengelola panti, tanpa sebab yang jelas. Sementara penghuni panti, dipaksa tinggal di ruang sempit tanpa dilengkapi toilet yang layak dan dikunci dari luar.***













