Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
16 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
15 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
18 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
18 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
20 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
17 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Badminton

Pers Jadi Penerang di Tengah Surplus Info Hoax

Pers Jadi Penerang di Tengah Surplus Info Hoax
Anggota Komisi X DPR, Anang Hermansyah.
Kamis, 09 Februari 2017 14:23 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Peringatan hari pers nasional yang jatuh pada 9 Februari 2017 ini memiliki makna penting di tengah maraknya informasi hoax (palsu) yang beredar masyarakat. Pers ibarat lampu penerang di tengah berlimpahnya informasi palsu.

Anggota Komisi  X DPR RI Anang Hermansyah mengatakan, peringatan hari pers nasional (HPN) saat ini memiliki makna penting di tengah kondisi melimpahnya informasi palsu yang berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat.

"Pers Indonesia saat ini sangat memiliki peran yang strategis. Pers telah menjadi penerang di kondisi surplusnya informasi palsu di tengah masyarakat," ujar Anang di Jakarta, Kamis (9/2/2017).

Dalam kesempatan tersebut Anang juga mengapresiasi upaya Dewan Pers yang melakukan sertifikasi terhadap media massa yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas pers.

"Karena hari ini orang dengan mudah membuat media online setidaknya saat ini ada 43.400 portal sebagaimana rilis Dewan Pers dan hanya234 yang terdaftar di Dewan Pers. Orang menulis sesuai seleranya tanpa melalui kaidah-kaidah jurnalistik yang benar. Langkah Dewan Pers patut diapresiasi," tambahnya.

Hanya saja, musisi asal Jember ini mengingatkan agar upaya sertifikasi Dewan Pers kepada media massa bukan dimaksudkan untuk melakukan kooptasi dan intervensi terhadap konten media massa.

"Tetapi juga harus diingatkan, langkah sertifikasi tersebut jangan menjadi wajah baru negara untuk melakukan intervensi terhadap konten media massa. Jangan pernah kita mundur ke masa lalu," tukasnya.

Di bagian lain, dirinya juga berharap pers Indonesia tetap menjadi pilar keempat demokrasi yang senantiasa menjadi pengontrol lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

"Sikap kritis terhadap cabang-cabang kekuasaan negara jangan pernah padam dari pers. Pers selain menjadi penyambung suara rakyat juga menyuburkan semangat persatuan bangsa," pungkasnya. ***

wwwwww