Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
15 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
2
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
15 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
3
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
Sepakbola
15 jam yang lalu
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
4
MA Anulir Suket SMA Gibran Rakabuming, Publik Soroti Sikap KPU dan Ancaman Pemakzulan
Umum
15 jam yang lalu
MA Anulir Suket SMA Gibran Rakabuming, Publik Soroti Sikap KPU dan Ancaman Pemakzulan
5
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
6
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
20 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Home  /  Berita  /  Badminton

Anggarkan Rp432 Miliar, Jakpro Dinilai Bebankan Negara dalam Proyek Pembelian Rolling Stock LRT

Anggarkan Rp432 Miliar, Jakpro Dinilai Bebankan Negara dalam Proyek Pembelian Rolling Stock LRT
Ilustrasi.
Jum'at, 14 Juli 2017 17:18 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pembelian rolling stock yang mencapai USD 1,8 juta per frame yang dilaksanakan pihak Jakpro dengan perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Rotem terkait Proyek LRT dianggap teramat fantastis dan ada indikasi membebankan negara.

Meskipun Jakpro sendiri berdalih menggunakan dana perusahaan, dimana pihak Jakpro menyiapkan anggaran sebesar Rp423 miliar, bukan dari anggaran pemerintah.

Namun menurut data dari Center for Budget Analysis, anggaran tersebut nantinya tetap harus ditanggung negara, termasuk jika terjadi kerugian karena nilai kontrak yang ditetapkan tidak sesuai dengan harga standar atau “kemahalan”.

"Selain kemahalan juga ada dugaan Mark Up dalam pengadaan ini. Jadi jakpro, jangan bergelap-gelap dalam terang dalam proyek rolling stock," ujar Jajang Nurjaman selaku Koordinator Investigasi CBA, Jumat (13/7/2017).

Proyek LRT yang merupakan proyek strategis nasional dengan anggaran 27 triliun itu, terdiri dari Rp 23,3 triliun untuk pra sarana (pembangunan jalur kereta api), dan Rp 4 triliun untuk sarana seperti rolling stock atau rangkaian kereta seharusnya diawasi dengan ketat.

"Kami Center for Budget Analysis (CBA) mendukung langkah Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan pemanggilan terhadap pihak Jakpro guna mereview kontrak rolling stock," tandasnya.

"Jangan sampai kerjasama pembelian rolling stock yang dilakukan hanya mengutamakan targetan waktu pengerjaan dan mengesampingkan efisiensi anggaran," pungkasnya. ***

wwwwww