Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
2
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
3
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
4
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
8 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
5
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Bermain Dengan Sembilan Pemain, PSM Mampu Curi Poin di Markas Borneo FC
Home  /  Berita  /  Badminton

Gagal Kejar Wajib Pajak Kakap, Pemerintah Malah Bebani Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Gagal Kejar Wajib Pajak Kakap, Pemerintah Malah Bebani Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Ilustrasi rakyat berpenghasilan rendah dibebani pajak. (republika.co.id)
Senin, 24 Juli 2017 18:53 WIB
JAKARTA - Pemerintah disarankan mengejar wajib pajak kelas kakap untuk menaikkan penerimaan negara. Jangan malah sebaliknya, menurunkan batas maksimal Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), yang berpotensi menurunkan tingkat konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah.

Saran tersebut disampikan ekonom Indef, Bhima Yudhistira. Bhima merujuk pada laporan Kementerian Keuangan yang mengungkap ada sekitar 2.000 investor asing yang tidak membayar pajak selama 10 tahun dengan alasan selalu merugi.

Padahal, seharusnya rata-rata investor tersebut membayar pajak Rp25 miliar per tahun.

Jika potensi itu dikejar, Bhima yakin kas negara akan bertambah signifikan tanpa harus membebani masyarakat berpenghasilan rendah.

''Apalagi sekarang ada instruksi satu Kantor Pelayanan Pajak (KPP) harus sandera satu wajib pajak. Jadi memang harus dikejar karena kemarin saat tax amnesty masih banyak yang mangkir,'' ucap Bhima, saat dihubungi republika.co.id, Senin (24/7).

Langkah kedua yang dapat dilakukan untuk menggenjot penerimaan negara, menurut Bhima, yakni dengan melakukan reindustrialisasi.

Sebab, saat ini sektor industri menyumbang penerimaan pajak sebesar 31 persen, dengan industri manufaktur sebagai penyumbang terbesar.

''Kalau industrinya bisa dipacu tumbuh diatas enam persen, maka penerimaan pajak akan naik secara signifikan,'' paparnya.

Adapun langkah ketiga, kata Bhima, yakni dengan mempercepat ekstensifikasi cukai.

Ia menjelaskan, setidaknya ada tiga barang kena cukai baru yang bisa dieksekusi mulai 2018. Ini tentu akan menambah penerimaan negara di luar pajak.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Badminton, Ekonomi
wwwwww