Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
23 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
23 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
23 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
23 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
22 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
22 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Petani di Aceh Tengah Panen Raya Padi Tahunan

Petani di Aceh Tengah Panen Raya Padi Tahunan
Sejumlah petani saat memanen padi Mas, Takengon, Senin (14/8/2017). [Sarina]
Senin, 14 Agustus 2017 13:18 WIB
Penulis: Sarina

TAKENGON - Petani dataran tinggi Gayo melakukan panen raya padi Mas di Gampong Uning, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (14/8/2017). Panen raya tersebut dilakukan di atas lahan seluas lebih kurang delapan hektare di kawasan daratan Danau Laut Tawar. 

Padi tersebut hanya bisa dipanen sekali dalam setahun karena areanya termasuk sawah tadah hujan.

Salah seorang petani, Nurmani kepada GoAceh mengatakan, dalam sekali panen dirinya mampu menghasilkan padi sebanyak 100 hingga 200 kaleng (hitungan takaran padi di Takengon).

Padi itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya selama setahun. 

"Di sini kami tidak pernah menjual padi (gabah). Berasnya kami manfaatkan untuk kebutuhan makan selama setahun," katanya. 

Nurmani menambahkan,  padi Mas yang menghasilkan beras unggulan itu, jika dijual harganya mencapai Rp250 ribu per lima kaleng.

Namun jika sudah menjadi beras harganya berkisar Rp18 ribu per bambu  setara dengan beras Ramos. 

"Kendala yang kami hadapi saat menanan padi itu yakni, kekurangan air karena minimnya curah hujan dan tidak adanya saluran irigasi, meski sawah kami sangat dekat dengan Danau Laut Tawar," ungkapnya. 

“Selain air, petani di sini juga mengeluhkan hama padi seperti tikus dan keong sawah, sehingga mengurangi hasil produksi padi,” tandas Nurmani. 

Editor:Yudi
Kategori:Ekonomi
wwwwww