Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
22 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
22 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
21 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
10 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Home  /  Berita  /  Badminton

Komitmen Indonesia Soal Energi Baru Terbarukan Bisa Contoh India

Komitmen Indonesia Soal Energi Baru Terbarukan Bisa Contoh India
Istimewa.
Kamis, 28 September 2017 20:15 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Hubungan bilateral antara Indonesia dan India dalam kerjasama di sektor-sektor strategis harus saling menguntungkan. Kedua negara sama-sama bisa saling memanfaatkan potensi sumber daya energi yang dimilikinya.

"Indonesia dan India sama-sama memiliki visi pengembangan energi baru dan terbarukan dengan memanfaatkan potensi sumber dayanya. India sudah lebih maju dalam penerapannya. Sementara Indonesia baru memulai ke arah sana. Inilah pentingnya mengusung kerjasama RI-India di sektor strategis yang bertumpu pada energi baru dan terbarukan di masa depan,” demikian penjelasan Ketua Delegasi Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI Satya Widya Yudha (F-PG) usai bertatap muka dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Republik India Raj Kumar Singh di New Delhi, (26/9).

Turut serta dalam delegasi GKSB DPR RI antara lain Bagus Adhi Mahendra Putra (F-PG), Anita Jacoba Gah (F-PD), Nur Hasan Zaidi (F-PKS), Djenri Alting Keintjem (F-PDIP), TB Soemandjaja (F-PKS) serta Andi Jamaro Dulung (F-PPP).

Satya yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI mengatakan, pertemuan GKSB DPR RI dengan Menteri Energi dan Sumber Daya India merupakan bagian dari jalinan bilateral yang selama ini sudah berjalan baik.

Sebelumnya, pada Mei 2017 lalu Menteri ESDM RI Ignatius Jonan juga telah berkunjung ke India dalam rangka penjajakan kerjasama di sektor energi.

Ada peluang cukup strategis yang bisa digarap dalam kerjasama RI-India tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya India Raj Kumar menyebutkan bahwa setidaknya ada 11 komitmen investasi dari India di sektor energi di Indonesia.

"Ada potensi kerjasama di sektor strategis yang harus ditindaklanjuti antar kedua negara. Sektor energi memiliki peluang yang cukup besar. Komitmen investasi India di Indonesia sangat ditunggu terlebih saat ini perdagangan antara India dan Indonesia masih surplus dipihak Indonesia,” papar Satya.

Seperti diketahui, sektor EBT di India sudah lebih maju. Berdasarkan International Energy Statistics (2016), India telah menjadikan EBT sebagai sumber energi dengan presentase sebesar 19,11 persen dari total konsumsi yang didominasi dari energi tenaga air.

Saat ini produksi EBT terus ditingkatkan, di mana pada 2016 kapasitasnya 40 GW dan ditargetkan pada 2022 menjadi 175 GW yang terdiri dari 100 GW (solar power), 60 GW (win power), 10 GW (bio power) dan 5 GW (hydro power). Baru-baru ini Negeri Bollywood tersebut menggulirkan kebijakan program mobil listrik massal. Ditargetkan pada 2030 mendatang penjualan mobil baru semuanya berbasis tenaga listrik. Dalam waktu dekat juga, India akan meluncurkan 100.000 unit bis dan becak motor listrik di New Delhi.

"Kita harus bisa belajar dari India bagaimana pengembangan EBT sebagai energi masa depan untuk terus ditingkatkan kapasitasnya. Indonesia perlu komitmen lebih besar lagi menjadikan EBT sebagai energi utama ke depan karena kita memiliki potensi yang cukup besar,” pungkas Satya. ***

wwwwww