Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
20 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
19 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
10 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
19 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
19 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
19 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Badminton

Hidayat Nur Wahid: Berpegang Pada Empat Pilar Agar Indonesia Tetap Bersatu

Hidayat Nur Wahid: Berpegang Pada Empat Pilar Agar Indonesia Tetap Bersatu
Dok. MPR RI.
Senin, 20 November 2017 11:26 WIB
JAKARTA - Saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada masyarakat di Tanah Abang, Jakarta, 17 November 2017, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menceritakan beberapa tahun yang lalu ada negara adi daya yang bernama Uni Soviet.

Negara besar yang pernah ada itu akhirnya bubar setelah ada kebijakan keterbukaan yang diluncurkan oleh Presiden Mikhail Gorbachev. "Mereka bubar menunjukan ideologi yang dimiliki tidak kokoh," ujarnya.

Apa yang dialami oleh Uni Soviet menular ke Yugoslavia. "Di Yugoslavia ada Presiden Tito yang sangat kuat," ujarnya.

"Namun setelah Tito meninggal negara itu bubar," tambahnya.

Menurut HNW pecahnya Yugoslavia menjadi beberapa negara menunjukan ideologi yang dimiliki juga tidak kokoh.

Apa yang terjadi di Uni Soviet dan Yugoslavia itu diharapkan tidak terjadi di Indonesia. Bila Yugoslavia pecah, bisa jadi rakyatnya kembali ke wilayah etnis masing-masing seperti Kosovo, Montenegro, Serbia, dan Bosnia. Pun demikian yang terjadi di Uni Soviet, rakyatnya bisa kembali ke Tajikistan, Usbek, dan lainnya.

Hal demikian tentu sulit terjadi di Indonesia. "Sebab masyarakat kita sudah multietnis," ujar HNW.

Dicontohkannya, banyak provinsi di Indonesia penduduknya sudah multietnis. "Mau kembali ke mana? Jadi Indonesia beda dengan kedua negara tadi," paparnya.

Untuk itulah dalam kesempatan tersebut, HNW mengajak kepada masyarakat agar melaksanakan nilai-nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, agar bangsa Indonesia tetap utuh dan bersatu. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Badminton, Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww