Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
23 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
22 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
11 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
5
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
22 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
6
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
22 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

BI Siap Melakukan Stabilisasi ke Pasar

BI Siap Melakukan Stabilisasi ke Pasar
Kamis, 01 Maret 2018 08:30 WIB

MEDAN - Bank Indonesia (BI) memprediksi, Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali tahun ini.

Paling dekat, keputusan kenaikan suku bunga tersebut bisa terjadi dalam pertemuan The Fed pada Maret ini.

Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi mengungkapkan, kenaikan suku bunga acuan AS dipastikan bakal mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah. "Nilai tukar rupiah berpotensi bergejolak lebih dari sekali tahun ini. Kita harus mewaspadainya," katanya usai menghadiri acara kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Rabu (28/2/2018).

Saat ini, suku bunga acuan bank sentral AS berada pada kisaran 1,25%. Angka ini telah mengalami beberapa kali kenaikan karena membaiknya perekonomian AS setelah terdampak krisis global pada 2008 silam. Kenaikan tingkat suku bunga acuan AS menjadi tolak ukur imbal hasil instrumen investasi di negara tersebut. Dengan demikian, jika suku bunga acuan AS naik, maka aliran modal keluar dari Indonesia (capital outflow) akan kencang dan bisa mengganggu stabilitas rupiah.

Secara umum, perekonomian AS sudah membaik, ketimbang ketika krisis menerpa pada tahun 2008 lalu. Perbaikan ekonomi inilah yang membuat Fed bersiap menaikkan tingkat suku bunganya.

Menurutnya, kenaikan suku bunga AS akan membuat volatilitas nilai tukar rupiah pada 2018 berpotensi naik ke level 7% hingga 8%. Tahun lalu, volatilitas nilai tukar rupiah hanya bermain di angka 3%.

"BI siap melakukan stabilisasi ke pasar jika nilai tukar rupiah sudah tidak sesuai fundamental perekonomian," ungkapnya.

Editor:wen
Sumber:medanbisnis
Kategori:Sumatera Utara, Ekonomi
wwwwww