Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
2
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
16 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
3
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
Sepakbola
16 jam yang lalu
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
4
MA Anulir Suket SMA Gibran Rakabuming, Publik Soroti Sikap KPU dan Ancaman Pemakzulan
Umum
17 jam yang lalu
MA Anulir Suket SMA Gibran Rakabuming, Publik Soroti Sikap KPU dan Ancaman Pemakzulan
5
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
24 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
6
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
22 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Home  /  Berita  /  Badminton

Puisinya Dinilai Diskriminasi, Sukmawati Soekarno Putri Harus Meminta Maaf kepada Umat Islam

Puisinya Dinilai Diskriminasi, Sukmawati Soekarno Putri Harus Meminta Maaf kepada Umat Islam
Sukmawati Soekarno Putri
Selasa, 03 April 2018 00:08 WIB
JAKARTA - Deputi Politik Hukum Institute Democracy and Justice Erlanda Juliansyah Putra mengkritik pembacaan puisi yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarno Putri, putri sang proklamator. Menurutnya pembacaan puisi yang dibacakanya tersebut justru memperlihatkan sisi intoleransi dan diskriminasi kepada agama Islam, dan itu tidak dibenarkan dalam konstitusi kita.

Ditengah spirit negara memperkuat nilai nilai kebangsaan dan menjunjung tinggi makna toleransi, malah putri sang proklamator sendiri yang keblablasan menodai makna toleransi itu sendiri.

Menurutnya, analogi yang disampaikan Sukmawati dalam puisinya itu justru mengkerdilkan dirinya sendiri. "Mbok iya seorang anak proklamator tidak mengetahui syariat Islam kan lucu saja, emangnya saat pergulatan pembentukan Pancasila, beliau tidak tau apa bahwa syariat Islam itu, justru duluan tertulis di Piagam Jakarta sebelum dihapuskan dan berakhir ke Pancasila'' nggak ada perumpamaan lain apa? Ini sampai ke azan turut disinggung udah gak bener ini,'' jelasnya.

Erlanda menyayangkan aksi pembacaan puisi Sukmawati yang bertolak belakang dengan spirit mengokohkan kesatuan bangsa itu. ''Ini harus dijadikan bahan evaluasi bersama, termasuk ke pemerintah sendiri, ini kan hal yang sangat ambigu dan aneh menurut saya, saat pemerintah sedang konsen memperkuat ideologi pancasila melalui Unit Kerja Presiden bidang Penguatan Ideologi Pancasila, lah ternyata anak proklamator sendiri masih gagal paham terkait dengan perihal sejarah yang pernah menggeluti pembentukan landasan idil negara,'' ujarnya.

Ditambahkannya, ini bisa jadi PR baru untuk pak Yudi Latif sebagai kepala UKP PIP (Unit Kerja Presiden bidang penguatan Ideologi Pancasila) untuk mensosialisasikan Pancasila itu ke ruang lingkup terdekat terlebih dahulu sebelum ke masyarakat, karena dengan demikian perihal intoleransi dan diskriminasi seperti yang dilakukan sukmawati bisa dihindari.

Disisi lain, menurut Erlanda, ucapan sukmawati itu sendiri bisa terancam ke perbuatan pidana karena hal itu sudah mengarah kepada penistaan agama dengan menganalogikan suara azan yang menjadi kesakralan panggilan tuhan kepada pemeluk agama Islam, malah di olok-olokan dengan perumpamaan yang tidak layak. ''Maka untuk itu menurut saya sudah selayaknya Sukmawati meminta maaf atas perbuatannya tersebut, agar persoalan intoleransi dan diskriminasi seperti ini tidak terulang kembali,'' tutupnya. (rls)

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Badminton, PON, DKI Jakarta
wwwwww