Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
22 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
17 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
16 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
14 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
19 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
15 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  Badminton

DPR Sebut Kemenperin Sudah Tepat Bangun Industri Mobil Listrik

DPR Sebut Kemenperin Sudah Tepat Bangun Industri Mobil Listrik
Ilustrasi. (net)
Senin, 09 April 2018 14:26 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VI DPR Dito Ganinduto menilai Kementerian Perindustrian (Kemenperin) cukup tepat memimpin pembangunan industri mobil bertenaga listrik.

"Pengembangan mobil listrik bisa menjadi bagian dalam kerangka 'Making Indonesia 4.0' yang baru-baru ini dicanangkan dan mendapat dukungan penuh Presiden Joko Widodo," katanya di Jakarta, Senin (9/4/2018).

Menurut dia, Kemenperin baru saja meluncurkan inisiatif "Making Indonesia 4.0" dan menjadikan otomotif sebagai salah satu dari lima sektor industri yang diunggulkan untuk dikembangkan.

"Kami memandang rencana pemerintah mengembangkan mobil listrik dan inisiatif 'Making Indonesia 4.0' adalah dua hal yang dapat disinergikan untuk memberikan hasil lebih optimal dengan memanfaatkan kumpulan pengetahuan, jaringan, dan pengalaman selama ini dalam membangun industri otomotif Indonesia," ujar politisi Partai Golkar tersebut.

Di sisi lain, lanjutnya, peraturan presiden mengenai mobil listrik juga sudah cukup lama ditunggu-tunggu.

"Semoga Perpres yang segera diterbitkan menampung usulan meyinergikan proyek mobil listrik dengan "Making Indonesia 4.0", termasuk kepemimpinannya," ujarnya.

Dito melanjutkan pembuatan mobil listrik bukan semata soal menggantikan bahan bakar dari hasil pengolahan minyak bumi menjadi listrik.

Namun, lebih dari itu yakni menggantikan sebagian besar material dan proses manufaktur dibandingkan cara memproduksi unit-unit otomotif berbahan bakar minyak sekarang.

"Ini menjadi tantangan bagi industri otomotif Indonesia untuk mampu menjawabnya," katanya.

Menurut dia, pengembangan mobil listrik membutuhkan banyak dukungan instansi seperti Kemenperin, Kementerian Risdikti, Kementerian BUMN, dan Kementerian ESDM, serta kerja sama berbagai pihak lainnya.

Perguruan tinggi dan lembaga riset dapat melakukan riset-riset di bidang pembuatan mobil listrik, material yang digunakan, sistem manufaktur, pendanaan hingga pemasarannya.

Selanjutnya, industri-industri otomotif yang selama ini telah melakukan kegiatannya secara nyata di Tanah Air juga perlu bergabung menyukseskan rencana pengembangan mobil listrik Indonesia.

"Perlu juga mengajak pihak-pihak di luar negeri yang berpengetahuan dan berpengalaman lebih untuk bekerja sama  mendukung proyek pengembangan mobil listrik kita," katanya.

Dito menambahkan Indonesia perlu mengembangkan mobil listrik, tidak saja karena alasan mengurangi pemakaian BBM, menurunkan polusi udara termasuk emisi gas rumah kaca, atau karena ke depan penduduk dunia akan lebih banyak menggunakan mobil listrik.

Namun, lebih dari itu, menurut dia, karena Indonesia telah memiliki pengalaman dalam pengembangan industri otomotif untuk pasar domestik maupun regional.

"Semoga mobil listrik ini segera terwujud di Indonesia, sebagai negara besar yang telah lama bercita-cita memiliki industri otomotif 'Merah Putih'-nya sendiri," katanya. ***

wwwwww