Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
23 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
23 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
3
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
23 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
4
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
22 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
5
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
6
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
4 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Home  /  Berita  /  Badminton

Pengelolaan Gelora Bung Karno Harus Transparan

Pengelolaan Gelora Bung Karno Harus Transparan
Ketua Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman. (Istimewa)
Selasa, 15 Mei 2018 18:28 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Komplek Gelora Bung Karno merupakan tempat bersejarah yang dibangun saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Perlu dicatat bahwa kontribusi masyarakat cukup besar sehingga komplek olahraga ini bisa berdiri di atas tanah seluas 279,1 hektar.

"Kita harus menghormati upaya Presiden Soekarno dan juga kerelaaan masyarakat untuk melepas lahannya demi terwujudnya komplek Gelora Bung Karno (GBK). Saat itu, masayarakat berpikir bahwa pembangunan GBK itu demi kepentingan bangsa dan negara serta mewujudkan keinginan Indonesia untuk bersaing dalam bidang olahraga di kancah internasional," kata Ketua Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman di Jakarta, Selasa (15/5/2018). 

Atas dasar itulah, Sarman mendesak pemerintah harus menghargai sejarah pendirian GBK dan tidak sembarangan merestui penggantian nama Istora GBK dengan Blibli Arena. 

"Menpora Imam Nahrawi itu sudah salah kaprah dengan tidak mempermasalahkan adanya penggantian nama Istora GBK. Blibli itu mem-branding nama Istora karena namanya dan nilai asetnya lebih besar," ungkapnya. 

Dengan adanya nilai aset olahraga yang cukup luas di tengah pusat bisnis tersebut, kata Sarman, dunia olahraga Indonesia seharusnya sudah tidak lagi kekurangan dana dalam pembinaan prestasi atlet. "Saya yakin dengan aset olahraga seluas 179,1 hektar sudah tidak ada keluhan tentang kekurangan dana pembinaan. Dan, KONI Pusat dan KOI yang merupakan lembaga non profit tak perlu lagi dipungut bayaran untuk menempati kantor di GBK," tegasnya. 

Selama ini, kata Sarman, tidak ada keterbukaan mengenai pendapatan dalam pengelolaan GBK dan kepada perusahaan mana saja lahan GBK disewakan. "Kawasan GBK itu adalah aset negara. Jadi, masyarakat harus tahu kemana saja lahan itu disewakan dan berapa pendapatan yang diperoleh. Jangan sampai aset negara itu sampai hilang," jelasnya. 

Bagaimana dengan adanya keluhan bahwa pendapatan dari penyewaan lahan tidak mencukupi untuk biaya perawatan GBK? "Pernyataan itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kalau pengelolaannya diserahkan kepada tenaga profesional pasti tidak akan terjadi. Selama ini, saya melihat adanya penunjukan langsung dari penguasa," tandasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Badminton, PON, Olympic, Non Olympic, DKI Jakarta
wwwwww