Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
21 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
21 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
20 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
20 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
21 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Badminton

Mahyudin: Anak Muda Gampang Disusupi Paham Radikalisme

Mahyudin: Anak Muda Gampang Disusupi Paham Radikalisme
Kamis, 07 Juni 2018 13:47 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
TENGGARONG - Wakil Ketua MPR Dr. Mahyudin menyampaikan sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Forum Pemuda Muslim Bontang, di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (5/6/2018). Dalam sosialisasi, Mahyudin menyinggung radikalisme di kalangan anak muda.

Menurut Mahyudin, paham radikalisme menyasar kaum muda karena anak-anak muda memiliki semangat yang tinggi dibanding rasio atau pikirannya (logika) sehingga mudah disusupi dan terkontaminasi dengan paham radikalisme.

"Inilah yang membedakan anak-anak muda dengan orangtua. Paham radikalisme ini sangat berbahaya," katanya.

Mahyudin menambahkan anak-anak muda lebih mudah dipengaruhi paham radikalisme dibanding dengan ustad atau ulama. "Bagi ulama NU dan Muhammadiyah sudah tidak mempan lagi disusupi paham radikalisme karena sudah menguasai ilmu agama secara menyeluruh," ujarnya.

Mahyudin menyebutkan anak-anak muda banyak belajar radikalisme dari internet dan media sosial. "Radikalisme sebenarnya adalah mencuci otak. Itu sebabnya radikalisme bisa masuk ke kampus-kampus karena anak muda memiliki semangat yang besar dibanding rationya atau logikanya," jelas Mahyudin.

Usai sosialisasi, Mahyudin mengharapkan bidang kemahasiswaan di universitas agar aktif mengawasi dan memontor kegiatan mahasiswa seperti pengajian. "Jangan sampai ada pengajian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam," tuturnya.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), lanjut Mahyudin, mempunyai data tentang radikalisme. "Saya dengar ada indikasi sekitar 30 persen mahasiswa terkontaminasi paham radikal. Saya kira serahkan saja pada universitas masing-masing untuk mengawasi kegiatan mahasiswa," katanya.

Sedangkan adanya Densus 88 yang masuk kampus di Universitas Riau, Mahyudin melihat sebagai pelaksanaan Protap. "Wajar Densus bawa senjata ke kampus, karena terorisme mengancam jiwa. Kita tidak perlu dibesar-besarkan. Hal itu situasional dan polisi punya protap untuk menangani masalah terorisme ini," pungkasnya.***

wwwwww