Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Instiawati Ayus dan YIRA Kebut Perhutanan Sosial Riau
Lingkungan
10 jam yang lalu
Instiawati Ayus dan YIRA Kebut Perhutanan Sosial Riau
2
Ke KSAD Andika, 1.262 Siswa Secapa TNI Sedih Dinyatakan Positif Corona, Padahal Tak Merasakan Sakit Apapun
Peristiwa
24 jam yang lalu
Ke KSAD Andika, 1.262 Siswa Secapa TNI Sedih Dinyatakan Positif Corona, Padahal Tak Merasakan Sakit Apapun
3
Kurikulum Pendidikan Tak Masuk Pelajaran Tentang Pancasila, MPR Kecewa
Politik
23 jam yang lalu
Kurikulum Pendidikan Tak Masuk Pelajaran Tentang Pancasila, MPR Kecewa
4
Kata Legislator setelah Aljannah Melahirkan di Teras
Kesehatan
21 jam yang lalu
Kata Legislator setelah Aljannah Melahirkan di Teras
5
Rencananya, Angkatan Ke-IV Kartu Prakerja Dimulai Akhir Juli 2020
Pemerintahan
8 jam yang lalu
Rencananya, Angkatan Ke-IV Kartu Prakerja Dimulai Akhir Juli 2020
Home  /  Berita  /  Riau
Pahlawan Nasional dari Riau

Kapten Mansyurdin, Komandan Polisi Militer Pertama di Riau Hingga Kini Belum Masuk Daftar Pahlawan Nasional, Ini Kisah Perjuangannya (Bagian-1)

Kapten Mansyurdin, Komandan Polisi Militer Pertama di Riau Hingga Kini Belum Masuk Daftar Pahlawan Nasional, Ini Kisah Perjuangannya (Bagian-1)
Kapten Mansyurdin (dok. Keluarga untuk GoNews.co)
Kamis, 09 Agustus 2018 13:56 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

PEKANBARU – Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, bangsa Indonesia kembali diingatkan akan perjuangan para pahlawan saat melawan penjajah. Tak terkecuali dengan masyarakat Riau, sejumlah pahlawan nasional juga lahir dari  "Bumi Lancang Kuning" Sebut saja Mahmoed Marzuki, Tuanku Tambusai, Sultan Sayrif Kasim II, Raja H Fisabillilah dan sejumlah tokoh lainnya.

Pemerintah Provinsi Riau, sebelumnya juga memasukkan daftar nama Kapten Mansyurdin, tokoh ini merupakan Komandan Polisi Tentara/PT Pertama di Riau yang juga sempat menjabat Wakil Ketua BKR Riau.

Kapten Mansyurdin adalah termasuk tokoh yang sangat dihormati dan disegani di negeri ini. Sang Kapten merupakan pria kelahiran Pariaman 10 Januari 1923 yang lahir dari pasangan Nurdin-Balun dan wafat pada 10 Juni 1960.

Sepanjang hidupnya, ia abdikan untuk kemajuan dan perjuangan di Riau. Berikut Ini sejarah singkat perjuangan Kapten Mansyurdin yang dihimpun GoNews.co dari data Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Riau serta cerita pihak keluarga yang masih hidup di Riau:

Perjuangan Menjelang dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI di Pekanbaru

Pada saat berita kekalahan Jepang yang menyerah tanpa syarat kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945 tersiar di daerah Riau pada akhir Agustus 1945, menimbulkan keraguan rakyat tentang siapa yang akan menggantikan pemerintahan Jepang, apakah Belanda atau Inggris. Sementara itu penduduk bangsa Cina (Kuo Min Tang) menganggap bahwa yang berhak menggantikan pemerintahan Jepang adalah bangsa Cina karena merupakan sekutu dari Negara yang menang perang.

Penduduk bangsa Cina di Pekanbaru mengibarkan bendera Kuo Min Tang di rumah-rumah, kapal-kapal, tongkang-tongkang milik Cina, serta kapal-kapal dan perahu-perahu milik Cina tidak mau lagi diperiksa oleh Duane atau Polisi, disamping itu juga tidak mau singgah di Siak dan kampung-kampung, akibatnya terputus hubungan satu kampung ke kampung yang lain.

Demikian juga, bekas tawanan Belanda yang berjumlah ratusan telah berubah dari tawanan menjadi tentara Belanda yang bersenjata lengkap, dan bahkan sudah menyatakan bahwa Belanda lah yang akan berkuasa di Indonesia.

Kapten Mansyurdin Membawa Salinan Pamflet Teks Proklamasi dari Bukit Tinggi

Dalam suasana yang tidak menentu dan tidak ada adanya kepastian tentang keberlangsungan pemerintahan pasca Jepang kalah perang ini, terjadi selama lebih kurang setengah bulan. Beberapa utusan sudah dikirim ke Bukit Tinggi (ibu kota Sumatera Tengah pada saat itu) untuk menemui Tokoh Pergerakan di Bukit Tinggi, tetapi kepastian yang diharapkan belum juga diperoleh.

Berita yang diterima oleh Kantor PTT Pekanbaru, juga bukan dalam bentuk Teks Proklamasi lengkap, tetapi hanya kabar bahwa Indonesia sudah merdeka. Barulah pada tanggal 29 Agustus 1945, Mansyurdin yang merupakan bekas anggota Gyu Gun, datang ke Pekanbaru dengan membawa dua orang rekannya yakni, Nur Rauf dan Rajab untuk membawa Salinan Pamflet Teks Proklamasi yang ditanda tangani Soekarno-Hatta yang berhasil diperolehnya dari Bukit Tinggi.

Mansyurdin merupakan bekas anggota Gyu-Gun yang diperbantukan di Pekanbaru oleh Markas Besar BO-EI-SIREI-BU Sumatera di Bukit Tinggi. Daerah pengawasan Mansyurdin adalah antara Padang dan Singapore termasuk Pekanbaru.

Selanjutnya, sesampainya di Pekanbaru dini hari tanggal 30 Agustus 1945 Salinan Pamflet Teks Proklamasi langsung ditempelkan ke berbagai tempat sehingga pagi harinya masyarakat Pekanbaru gempar, ada yang percaya dan ada yang tidak. Untuk mempermudah aksinya tersebut, Mansyurdin berupaya memperbanyak teman disamping juga guna membantu mencari kain merah putih. Namun pada waktu itu kain tersebut sulit didapat, sehingga Sang Merah Putih gagal dinaikkan. Pihak Kepolisian (dipimpin KEISI KARIM) yang mengetahui aksi Mansyurdin dan kedua rekannya, lalu membaslah pamflet serta menangkap kedua rekan Mansyurdin. Namun pada hari itu juga mereka dilepas, dan diperintahkan segera kembali ke Bukit Tinggi. (Besambung ke Bagian 2)


wwwwww