Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kerangkat Tim Persela Sudah Terbentuk Kata Nil Maizar
Sepakbola
19 jam yang lalu
Kerangkat Tim Persela Sudah Terbentuk Kata Nil Maizar
2
HNW: Pencabutan Klaster Pendidikan Bukti RUU Ciptaker Bermasalah
MPR RI
23 jam yang lalu
HNW: Pencabutan Klaster Pendidikan Bukti RUU Ciptaker Bermasalah
3
PKS Gelar Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa
DPR RI
24 jam yang lalu
PKS Gelar Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa
4
Kadis Dukcapil pun Diminta Berkawan dengan Penjaga Makam
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Kadis Dukcapil pun Diminta Berkawan dengan Penjaga Makam
5
Pilkada 2020, Tito Tunjuk 4 Pejabat jadi Pjs. Gubernur
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Pilkada 2020, Tito Tunjuk 4 Pejabat jadi Pjs. Gubernur
6
Anggota Dewan Bermesraan dengan Istri Saat Rapat Virtual Bahas Anggaran, Begini Kejadiannya
Internasional
23 jam yang lalu
Anggota Dewan Bermesraan dengan Istri Saat Rapat Virtual Bahas Anggaran, Begini Kejadiannya
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Asian Games 2018

Bunga Nyimas Penyumbang Emas Termuda

Bunga Nyimas Penyumbang Emas Termuda
Skateboarder Indonesia, Bunga Nyimas Cinta
Sabtu, 01 September 2018 18:32 WIB
Penulis: Azhari Nasution

PALEMBANG - Ada dua momen indah di Final skateboard Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Palembang, yang tidak akan terlupakan bagi skateboarder Indonesia Bunga Nyimas Cinta. Pertama, atlet 12 tahun itu menjadi skateboarder termuda yang meraih medali di pesta olahraga antar-bangsa di Asia itu. 

Momen kedua jadi paling istimewa, karena medali perunggu yang diraihnya bertepatan dengan ulang tahun ke-35 ibunya pada 29 Agustus. “Medali ini adalah kado ulang tahun untuk ibu saya,” kata Nyimas kepada Antara di Jakabaring Sport City, Palembang.

Bertanding di bawah terik matahari di Palembang, Nyimas menunjukan potensinya sebagai skateboarder berbakat dan bermental juara di nomor street (jalanan).

Ia tampil percaya diri di final dengan sukses melakukan trik seperti fs kickflip over the ramp dan stalefish. 

Trik tersebut cukup sulit untuk ukuran atlet belia, dan Nyimas akhirnya mendapat medali perunggu dengan perolehan 19,8 poin.

Peraih medali emas adalah Margielyn Didal dari Filipina dengan 30,4 poin dan Kaya Isa dari Jepang dengan 25,00 poin.  

Meski berada di ranking 3, pencapaian ini sudah cukup bagus untuk Nyimas karena dua peraih medali lainnya adalah atlet yang sudah punya jam terbang lebih tinggi. Margielyn berumur 19 tahun dan Kaya Isa berumur 17 tahun. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali,” kata Bunga ketika mengeksresikan perasaannya.

Bunga Nyimas Cinta lahir pada 13 April 2006, putri dari pasangan suami-isteri Didiet Rio dan Ika Damayanti. Ia sulung dari tiga bersaudara. Rasa penasarannya terhadap skateboard berawal karena melihat vidio aksi skateboarder di media sosial sejak kelas 2 SD.

Ia kemudian sering mencoba-coba papan beroda itu, berulang kali terjatuh hingga menangis, namun Bunga terus bangkit dan bermain lagi. “Skateboard is fun, menyenangkan,” kata Nyimas tentang alasannya memilih olahraga itu.

Nyimas makin serius menekuni skateboard ketika kelas 5 SD. Bakatnya terus diasah dengan bantuan Anthony Adam Caya, yang menjadi pelatihnya di skatepark Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Anthony adalah salah satu legenda hidup skateboarder Indonesia. Ia lebih dikenal dengan nama Tony Sruntul, dan kini juga menjadi Presiden Skateboard Indonesia.

Sebelum menang di nomor street skateboard AG 2018, ia meraih medali perunggu pada kejuaraan Vans Park Series Asia Continental di Singapura pada awal Agustus tahun ini. Nyimas berada di ranking ketiga dengan perolehan 120 poin di nomor park.

Meski masih menjadi atlet belia, beberapa perusahaan sudah mensponsori dirinya seperti DC Shoes, Green Skate Lesson, Dsruntul Skateshop, Etaks Store, Noore Sport, Scratch Skateboards, Crossing Socks dan Kabau Artshades.

Dari awalnya bercita-cita menjadi dokter, Nyimas kini memilih skateboard sebagai pilihan hidup dan ingin tampil di banyak kejuaraan. Salah satunya adalah di Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, di mana skateboard juga akan dipertandingkan untuk pertama kali di ajang olahraga dunia. “Saya target ingin tampil di olimpiade,” katanya sambil tersenyum.

Pilihan Nyimas untuk menekuni skateboard mendapat dukungan dari orangtuanya, bahkan turut mengubah hidup ayahnya.

Menurut Didiet, tidak ada yang lebih membahagiakan ketika bisa melihat buah hatinya giat berlatih olahraga yang dicintainya dengan sepenuh hati. 

Ia berharap pemerintah dan PB Perserosi sebagai induk dari olahraga skateboard melakukan pembinaan berkelanjutan untuk atlet muda yang potensial. Dengan begitu, pembinaan tidak berhenti ketika Asian Games usai.

“Masih banyak skateboarder berbakat di Indonesia ini. Kalau pembinaannya terarah, Indonesia tidak akan kehabisan skateboarder untuk kejuaraan dunia,” katanya.

Pelatih Kepala Tim Skateboard Indonesia, Charlie Hobbies, juga mengakui sejak awal dirinya melihat potensi Bunga Nyimas sebagai aset masa depan skateboard Indonesia karena skateboarder muda yang mahir di dua nomor sekaligus seperti Nyimas sangat jarang ditemukan.  “Kita tidak menyangka dia bisa juara,” ujar Charlie.

Menurut dia, sejak awal Tim Skateboard Indonesia tidak menargetkan medali dari atlet putri karena usia mereka masih belia. Selain Nyimas, Indonesia juga menurunkan skateboarder muda yaitu Aliqqa Novvery, yang masih berumur 9 tahun.  “Ini sudah luar biasa buat Bunga sebagai skateboarder pemula, sedangkan lawan-lawannya sudah lebih punya pengalaman dan usia mereka jauh lebih tua,” kata Charlie Hobbies. 


wwwwww