Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Forum Facebook Pekanbaru Kota Bertuah Fasilitasi Pengobatan Indah Putri
Kesehatan
22 jam yang lalu
Forum Facebook Pekanbaru Kota Bertuah Fasilitasi Pengobatan Indah Putri
2
Ruslan Buton Ditangkap, Kolonel Sugeng Waras: Anda tidak Sendirian, Banyak Orang di Belakangmu
Hukum
20 jam yang lalu
Ruslan Buton Ditangkap, Kolonel Sugeng Waras: Anda tidak Sendirian, Banyak Orang di Belakangmu
3
Dijerat Pasal Berlapis, Ruslan Buton Terancam Penjara Hingga 8 Tahun
Hukum
20 jam yang lalu
Dijerat Pasal Berlapis, Ruslan Buton Terancam Penjara Hingga 8 Tahun
4
Rekam Jejak Dirut TVRI yang Baru, Penggemar 'Bokep' Eks Kontributor Majalah Dewasa
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Rekam Jejak Dirut TVRI yang Baru, Penggemar Bokep Eks Kontributor Majalah Dewasa
5
DPR Mulai Uji Coba Teknis Pemggunaan 'Smartcard'
DPR RI
20 jam yang lalu
DPR Mulai Uji Coba Teknis Pemggunaan Smartcard
6
Dewas Tunjuk Iman Brotoseno Abaikan DPR, TVRI Mau Dibawa Kemana?
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Dewas Tunjuk Iman Brotoseno Abaikan DPR, TVRI Mau Dibawa Kemana?
Home  /  Berita  /  Riau

Harga Kelapa Makin Hancur, Petani di Inhil Menjerit

Harga Kelapa Makin Hancur, Petani di Inhil Menjerit
Minggu, 02 September 2018 12:11 WIB
Penulis: Rida Ayu Agustina
TEMBILAHAN - Harga kelapa di Negeri Hamparan Kelapa Dunia masih anjlok, akibatnya banyak petani kelapa memilih tidak memanen kelapa mereka yang telah sampai masa panen.

Menurut petani, dengan harga kelapa yang murah ini malah akan rugi jika memaksa untuk menjual kelapa, karena ongkos dari memanen, mengupas, menyolak hingga sewa pompong jauh lebih besar.

"Sekarang harga perkilonya hanya Rp800 sampai Rp900, jadi kalau kita jual malah rugi, apalagi kalau memanen dan ngantar ke perusahaan diupahkah. Untuk sewa pompongnya aja sampai Rp200 ribu," curhat salah seorang petani kelapa.

Anjloknya harga kelapa ini juga memberikan dampak kepada perekonomian, pasalnya, 70 persen penghasilan masyarakat Inhil adalah berkebun kelapa.

Salah seorang pedagang warung makan di Pasar Tempuling mengaku, sejak harga kelapa anjlok, pembeli dagangannya pun jauh mengalami penurunan.

"Seperti hilang separuh langganan, biasa kan petani dari kebun saat jual kelapa mampir untuk makan di sini , tapi sejak kelapa murah ini mereka tidak ada datang," ujanya. 

Hal itu juga dibenarkan salah seorang pedagang pakaian di Pasar Rakyat Tembilahan, dikatakannya harga kelapa yang belum kunjung mengalami kenaikan secara signifikan mengakibatkan pasaran sepi pembeli.

"Paling ada satu-satu pembeli yang datang, pasar yang biasa sempit aja bisa untuk berlari. Apalagi sekarang semua serba mahal", sebutnya.

Sementara itu, sebelumnya, Ketua Komisi I DPRD Inhil, HM Yusuf Said mengutarakan bahwa salah satu penyebab anjloknya harga kelapa dikarenakan melimpahnya jumlah produksi kelapa setiap harinya.

Dimana setiap hari, sedikitnya 10 butir kelapa siap dipanen, sedangkan di Inhil, hanya ada 5 perusahaan yang dapat menampung ketersedian kelapa. Dimana maksimal dari 5 perusahaan itu hanya dapat menampung 5 juta kelapa perharinya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil pun masih terus mencarikan solusi terkait permasalahan ini, seperti baru-baru ini, Bupati Inhil, HM Wardan menyambangi kediaman ahli kelapa dunia, Prof Wisnu Gardjito sebagai bagian dari upaya menemukan solusi persoalan fluktuasi harga kelapa.

Selain itu, Bupati Inhil juga telah menggelar pertemuan dengan Aliansi Pemuda Mahasiswa Inhil (APMI), Selasa (28/8/2018) siang, di Aula Pertemuan Lantai V (Lima) Kantor Bupati Inhil, Tembilahan.

Pertemuan yang diselenggarakan itu merupakan tindaklanjut atas nota kesepahaman kerjasama pengolahan produk turunan kelapa antara Pemkab Inhil dengan The Green Coco Island dibawah pimpinan Prof Wisnu Gardjito. ***

Kategori:Ekonomi, Riau, Umum

wwwwww