Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
Sepakbola
22 jam yang lalu
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
2
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
DKI Jakarta
21 jam yang lalu
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
3
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
6 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
4
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Home  /  Berita  /  Riau

Sangat Berbahaya dan Menular, Ini Curahan Hati Orangtua Korban Rubella di Riau

Sangat Berbahaya dan Menular, Ini Curahan Hati Orangtua Korban Rubella di Riau
Senin, 10 September 2018 17:23 WIB
Penulis: Ratna Sari Dewi
PEKANBARU - Campak dan Rubella yang merupakan penyakit infeksi virus akut sangat berbahaya dan mudah menular hanya dengan percikan ludah dan pernafasan.

Di mana, komplikasi beratnya bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan yang dikenal sebagai sindroma rubella kongenital atau congenital rubella syndrome (CRS).

Popi, salahseorang warga Jalan Ikhlas Pekanbaru, harus menerima pahitnya kehidupan setelah mengetahui anaknya menjadi korban keganasan MR. Itu bermula ketika Popi hamil, ia tertular campak dari muridnya di sekolah.

"Waktu itu saya masih mengajar di sekolah, jadi ada anak murid saya yang sakit campak. Saya yang sedang hamil saat itu hanya berinteraksi biasa dengan anak murid tersebut, tapi bisa tertular juga," cerita Popi dalam diskusi publik situasi dan ancaman Penyakit Campak dan Rubella di Pekanbaru, Senin (10/9/2018).

Setelah anaknya lahir dan berusia dua bulan, Popi mulai merasakan ada kejanggalan. Sebab, anaknya tak pernah merespon ketika Popi mengajak berbicara maupun ketika diajak bermain dengan mainan yang mengeluarkan bunyi.

"Saya ajak main dengan mainan yang bunyinya kerincing-kerincing tidak merespon juga. Waktu itu kata suami saya wajar karena baru dua bulan, kemudian empat bulan masih begitu juga," kata Popi.

Hingga akhirnya, Popi terketuk hatinya untuk memeriksakan kesehatan anaknya ke dokter. "Ternyata anak saya tuna rungu. Pendengarannya terganggu 110 desibel kiri dan kanan, sehingga umur enam bulan sudah harus pakai alat bantu dengar. Ini akibat campak rubella," kata Popi.

Berawal dari pengalamannya itu, Popi pun kini giat memberikan edukasi dan mengajak orangtua untuk bersedia mengimunisasi anak-anaknya. Sebab, jika sudah tertular maka anak dalam kandungan bisa terlahir tuna rungu dan katarak.

"Ini penting untuk kesehatan anak-anak. Imunisasi MR juga bisa menyelamatkan ibu hamil dari penyakit ini," tuturnya memotivasi. ***

Kategori:Voli, Riau, PON
wwwwww