Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
22 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
22 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
22 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
22 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
22 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
22 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Badminton

Selain Karet, Harga TBS Kelapa Sawit di Inhu Buat Masyarakat Menjerit

Selain Karet, Harga TBS Kelapa Sawit di Inhu Buat Masyarakat Menjerit
Kamis, 22 November 2018 01:38 WIB
Penulis: Jefri Hadi
RENGAT - Selain harga getah karet yang terjun bebas di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, kini giliran harga TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit yang turun.

Bahkan, sejak sepekan terakhir harga TBS di Inhu di tingkat petani lokal hanya dibandrol Rp720 rupiah per kilogram. Harga ini tentu membuat para petani sawit mengeluh dan resah.

"Kondisi ini sungguh diluar nalar dan sangat menyiksa petani. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk biaya perawatan kebun saja sudah tidak cukup", ujar Sinulingga, salah seorang petani kelapa sawit di Pematang Reba kepada GoRiau.com, Rabu (21/11/2018).

Dikatakannya, beberapa bulan lalu, harga komuditi sawit ini sudah mulai berangsur membaik, dan para petani sudah mulai legah. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

"Atas semua itu, dirinya berharap pemerintah daerah bersama asosiasi petani kelapa sawit untuk bisa mengatasi hal ini. Sehingga penurunan harga biasa teratasi dan kembali normal", tegasnya.

Kalau pun harus bertahan seperti ini, dirinya berharap agar pemerintah dapat menyediakan pupuk bersubsidi yang nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memupuk kelapa sawit mereka.

"Harga sawit anjlok, harga pupuk melambung, tentu sangat tidak seimbang", pungkas Lingga menggerutu menyesalkan kebijakan pemerintah yang abai dengan nasib rakyat kecil. ***

wwwwww