Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wakil Ketua MPR: Mendikbud Buta Sejarah
Politik
23 jam yang lalu
Wakil Ketua MPR: Mendikbud Buta Sejarah
2
Oknum Polisi Perkosa Gadis Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Bukan Anggota Lapangan
Hukum
15 jam yang lalu
Oknum Polisi Perkosa Gadis Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Bukan Anggota Lapangan
3
Ketua DPR Ingatkan KPU dan Bawaslu soal Aturan Protokol Kesehatan saat Kampanye Pilkada
DPR RI
22 jam yang lalu
Ketua DPR Ingatkan KPU dan Bawaslu soal Aturan Protokol Kesehatan saat Kampanye Pilkada
4
Puan Pastikan Omnibus Law Dibahas Transparan dan Hati-hati
DPR RI
22 jam yang lalu
Puan Pastikan Omnibus Law Dibahas Transparan dan Hati-hati
5
Tak Pakai Masker Diborgol, Warga ke Petugas: Saya Gak Kapok, Ingat Kalian Jangan Lupa Solat!
Peristiwa
15 jam yang lalu
Tak Pakai Masker Diborgol, Warga ke Petugas: Saya Gak Kapok, Ingat Kalian Jangan Lupa Solat!
6
Tak Sesuai Undang-undang, Lelang Jabatan DPD RI Bermasalah
DPD RI
17 jam yang lalu
Tak Sesuai Undang-undang, Lelang Jabatan DPD RI Bermasalah
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Alhamdulillah... 198 Unit Rumah Terbangun Pascagempa NTB

Alhamdulillah... 198 Unit Rumah Terbangun Pascagempa NTB
Senin, 17 Desember 2018 19:51 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Hingga 15 Desember 2018, sejumlah 198 unit rumah telah terbangun pascagempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan beberapa pendekatan yang diminati oleh para korban.

Sejauh ini rumah yang dibangun menggunakan metode risha, riko, rika, dan RCI. Berdasarkan data Pos Komando (Posko) Satuan Tugas Tahap Rekonstruksi dan Rehabilitasi (15/12), 2.910 unit rumah sedang dibangun dengan beberapa metode tadi. Jumlah terbanyak yang sedang dibangun yaitu dengan metode risha sejumlah 1.582 unit, dengan rincian risha 1.582 unit, riko 890, rika 430, dan RCI 8. Proses pembangunan tersebut tersebar di seluruh wilayah NTB.

Menurut Posko, peminat tertinggi untuk metode rumah instan sederhana sehat (Risha) dengan jumlah 6.917 keluarga (KK), disusul dengan rumah konvensional (Riko) 4.438 KK, rumah kayu (rika) 2.596 KK. Sementara untuk rumah Cetak Raswari Indonesia (RCI) hanya 43 KK.

Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan elektroniknya yang diterima GoNews.co, Senin (17/12/2018) di Jakarta.

"Pemerintah membentuk kelompok masyarakat (pokmas) selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa. Meskipun telah terbentuk pokmas, beberapa tantangan terjadi di lapangan sehingga menghambat proses rekonstruksi fisik pembangunan rumah," katanya.

Beberapa kendala yang dihadapi kata dia, seperti kurangnya tenaga kerja lapangan, lambatnya pembentukan pokmas dan proses verifikasi data, lambatnya pengadaan dan distribusi material bangunan, serta keperrcayaan masyarakat terhadap fasilitator. "Hingga kini (15/12), 1.681 pokmas yang terdiri atas 19.997 KK telah terbentuk," tandasnya.

Sejalan dengan pembangunan rumah warga terdampak, pemerintah telah membangun hunian sementara (huntara) di sejumlah titik di NTB. "Huntara terbangun berjumlah total 11.510 unit. Data kerusakan rumah pascagempa di NTB sejumlah 216.219 unit dengan rincian rusak berat 75.138 unit, rusak sedang 33.075, dan rusak ringan 108.006," tukasnya.Pemerintah pusat dan daerah telah memetakan kebutuhan pemulihan pascagempa di NTB. Total kebutuhan pembiayaan pemulihan di sektor perumahan, infrastruktur, sosial, ekonomi produktif dan sektor lintas mencapai Rp 12 trilyun. Hingga saat ini BNPB telah memberikan stimulan perbaikan rumah sebesar Rp 1,54 trilyun kepada masyarakat yang rumahnya rusak.

"BNPB akan memberikan bantuan stimulan perbaikan rumah sesuai kebutuhan yang ditetapkan Pemda. Pemulihan rumah ditargetkan selesai pada Maret 2019 di semua sektor sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018," pungkas Sutopo Purwo Nugroho.***


wwwwww