Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
23 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
23 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
5
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
7 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
6
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
23 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Dewan Pers Akui Banyak Media Tak Berimbang dalam Pemberitaan Pemilu dan Pilpres

Dewan Pers Akui Banyak Media Tak Berimbang dalam Pemberitaan Pemilu dan Pilpres
Kamis, 17 Januari 2019 15:37 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Selama enam bulan terakhir, peran media dalam memberitakan soal Pemilu dan Pilpres masih berat sebelah dan tak berimbang.

Hal ini diungkapkan menanggapi masih banyak media yang tidak berimbang dalam memberitakan masa kampanye Pemilu Presiden dan Legislatif 2019.

"Selama enam bulan terakhir ada 16 media yang telah diadukan kepada kami karena pemberitaannya tidak berimbang," ujar Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo, Kamis (17/1/2019).

Stanly melanjutkan, selama masa pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018 lalu, Dewan Pers telah memberi teguran kepada 28 media yang pemberitaannya tidak berimbang.

Kini Stanley mendorong gugus tugas Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu dan Dewan Pers duduk bersama dalam menilai integritas newsroom di berbagai media.

Dia mengingatkan agar independensi wartawan tetap terjaga. "Sebisa mungkin bersihkan ruang redaksi atau newsroom dari hal-hal yang mempengaruhi independensi seorang jurnalis.”

Dia mempertanyakan independensi seorang wartawan jika yang bersangkutan melibatkan diri dalam tim sukses partai politik atau pemenangan salah satu calon Presiden/Wakil Presiden. Seorang wartawan harus memprioritaskan kepentingan publik dalam mencari informasi untuk diberitakan.

Dia menyarankan wartawan menyorot kelompok pemilih rentan, misal pemilih pemula, perempuan, lansia, kelompok masyarakat miskin kota.

Kata Stanley, kelompok-kelompok inilah yang harus didengar suaranya agar para calon bisa memasukkan visi dan misinya dalam agenda politik selama lima tahun ke depan.***

wwwwww