Opini

Islamhophobia & Ideologi Nasionalisme Kulit Putih Penyebab Teror Terhadap Muslim di New Zealand

Islamhophobia & Ideologi Nasionalisme Kulit Putih Penyebab Teror Terhadap Muslim di New Zealand
Ilustrasi. (istimewa)
Minggu, 17 Maret 2019 15:17 WIB
Penulis: Mujahidin Nur
BAGI UMAT Islam, sholat jumat adalah sebuah kewajiban yang perintahnya datang langsung dari Allah SWT melalui firmanNya, "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". [QS. al-Jumu’ah (62):9].

Semua Muslim New Zealand; dari anak-anak kecil, anak muda maupun orang tua, mereka riang gembira untuk mereguk oase kebahagiaan dalam ibadah Jumah di dua masjid kebanggan mereka; Christchurch yang berjarak lima kilo meter dari Masjid al-Noor, Linwood ketika seorang teroris (Brenton Tarrant) melakukan penemabakan brutal di dua masjid itu dengan menggunakan senjata otomatis dan menyiarkan secara langsung melalui Facebook dengan perangkat kamera yang dipasang di kepalanya.

Brenton Tarrant, membabi buta menembaki anak-anak, laki-laki dan perempuan, dimulai dari kawasan indutri di Leslie Hills Drive, sebelah barat Masjid al-Noor.

Kejadian biadab dan tak berperikemanusiaan yang menyisakan traumatik dan ketakutan pada umat Islam ini, menurut Pengamat Terorisme sekaligus direktur The Islah Centre, Mujahidin Nur terjadi karena beberapa hal:

Pertama, menguatnya gelombang Islamofobia atau Islamophobia di negara-negara barat. Islamophobia adalah istilah yang menunjukkan sikap takut sekaligus benci terhadap Islam dan umat Islam.

Istilah ini mengemuka pada pertengahan 90-an abad lalu setelah muncul dalam tulisan yang dirilis sebuah lembaga sipil Inggris yang dipimpin seorang Muslim yang juga wakil rektor Universitas Sussex, Inggris. Dalam tulisan itu, Islamophobia dijelaskan sebagai prasangka, rasa takut, dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam.

Kedua, pembunuhan massal terhadap umat Islam di dua Masjid itu adalah menguatnya ideologi nasionalisme kulit putih (ideology of white nationalism) yang berkembang dan mengglobal ke berbagai Negara Barat. Karenanya, agar teror terhadap umat Islam di Barat ini tidak terjadi lagi, para pemimpin di negara-negara Barat harus menangani masalah ini dari sumbernya.

Pernayataan Brenton Tarrant, bisa menjadi rujukan. Sebelum melakukan pembunuhan massal terhadap umat Islam, Brentton Tarrant memposting di media sosial pribadinya apa yang disebut manifesto sebagai Ideology of White Nationalism (ideologi nasionalisme kulit putih).

Itu berarti Brentton Tarrant dan pelaku pembunuhan terhadap umat Islam lainnya di New Zealand meyakini bahwa Islam dan umat Islam adalah ancaman yang bisa menghancurkan Peradaban Barat (wetern civilization) dari invasi asing (agama Islam).

Para pemimpin negara Barat juga hendaknya ingat peristiwa teror yang dilakukan oleh Anders Breivik yang membunuh 77 orang di Norwegia pada tahun 2011 juga terjadi karena ia terinspirasi manifesto setebal 1500 halaman ini.

Dalam pengakuannya, Breivik ingin menghukum Eropa karena multikulturalismenya dan karena penerimaan Eropa terhadap imigran Muslim.

Manifesto ini juga yang menginspirasi Christhoper Hasson yang baru-baru ini ditangkap karena menimbun senjata untuk melakukan pembunuhan massal utamanya pada umat Islam.

Manifeto ini pun menguat dan diperparah dengan kebijakan Presiden Amerika terpilih Donald Trump (2017) yang melarang imigran Muslim dari Iran, Libya, Suriah, Somalia, Sudan dan Yaman, sehingga Islamophobia makin populer dan menguat dibarengi dengan sentiman dan kebencian terhadap imigran Muslim.

Bahkan, Donald Trump dalam banyak kesempatan juga mempromosikan kebijakan anti Islamnya ke berbagai negara termasuk ketika Ia melakukan kunjungan musim panas ke Inggris. Donald Trump mengatakan, “Inggris telah kehilangan budaya aslinya, para imigran telah mengubah kebudayaan Inggris dan negara-negara Eropa. Anda tidak akan kehilangan kebudayaan Anda kalau Anda bertindak dengan cepat,"

Karenanya, tidaklah heran apabila pelaku pembunuhan massal terhadap Umat Islam-dalam pengakuannya-Ia memuji Presiden Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih.

Kelak di pengadilan, Brentton Tarrant tidak akan menyesal dengan terorisme yang merenggut 49 nyawa muslim New Zealand bahkan mungkin ia akan merasa bangga dan bahagia, karena ia memiliki tujuan yang sama dengan Donald Trump yakni mengurangi jumlah imigran muslim di New Zealand.

Apabila negara-negara barat tidak secepatnya mengambil tindakan untuk meredam Islamaphobia dan meredam ideology of white nationalism, maka berbagai peristiwa teror dan pembunuhan terhadap imigran akan banyak terjadi baik itu di Eropa, Amerika ataupun Australia.

Dan itu sangat memungkinkan karena banyaknya politisi dan media-media anti Islam yang menyuarakan kebencian terhadap umat Islam di Barat sampai saat ini.

Di tengah kepedihan atas tragedi kemanusiaan pada umat Islam, senator Australia; Frasser Anning malah menyalahkan program migrasi yang memungkinkan umat Islam memasuki New Zealand dan menempatkan mereka sebagai bagian dari masyarakat New Zealand.

Sehingga, sudah waktunya para politis dan media-media barat untuk menyelesaikan ideologi yang akan menjelma menjadi terorisme global di negara-negara Barat (Islamophobia dan ideology of white nationalism) ini, sebelum ideologi ini makin menguat dan akan menjadi masalah sosial dan keamanan di negara-negara barat.

Untuk meredam ideologi itu, Negara-negara Barat mesti melakukan sinergi maksimal dengan media pers dibantu dengan organisasi-organisasi Islam, dan lembaga-lembaga pendidikan untuk menekan gelombang Islamaphobia.

Pelibatan media, mutlak diperlukan karena medialah yang mempunyai peran vital dalam mentransformasikan informasi kepada masyarakat tanpa batas ruang dan waktu. Kecepatan media dalam melakukan reportase mampu memberikan pengaruh yang cepat pada pembentukan pola pikir masyarakat kita. Disamping, media juga mempunyai peran yang sangat dominan dalam penyebaran Islamophobia, ideologi nasionalisme kulit putih dan supermasi kulit putih di negara-negara Barat.

Karenanya, pada sisi yang sama, media bisa digunakan untuk menjadi instrument yang strategis dalam menyelesaikan masalah ini dengan tidak mengaitkan berbagai kejadian teror dan pemboman dengan agama tertentu. Karena terorisme, dimana pun dan siapa pun pelakunya, tidak ada kaitannya dengan agama yang mereka anut.

Para pemimpin dan media di negara Barat harus meyakinkan masyarakatnya bahwa Islam dan Barat bisa hidup berdampingan dalam harmoni dan perdamaian. Kontribusi umat Islam dalam kemajuan peradaban mereka adalah bukti yang tidak dapat dinafikan bahwa Islam dan peradaban Barat bisa bersinergi dan tidak saling menghilangkan identitas satu sama lain. Penulis: Mujahidi Nur, Direktur The Islah Center

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, Peristiwa

wwwwww