Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
Hukum
16 jam yang lalu
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
2
Demokrat: Batalkan Proses Hukum Ibu Tiga Anak Pencuri 3 Tandan Buah Sawit, Kami Ganti 10 Tandan
Hukum
16 jam yang lalu
Demokrat: Batalkan Proses Hukum Ibu Tiga Anak Pencuri 3 Tandan Buah Sawit, Kami Ganti 10 Tandan
3
Ini Tiga Masalah Dibalik Kebijakan New Normal Menurut Fadli Zon
Politik
14 jam yang lalu
Ini Tiga Masalah Dibalik Kebijakan New Normal Menurut Fadli Zon
4
Diduga Cabuli Pegawai Honorer, Anak Bupati Labuhanbatu Dipolisikan
Hukum
12 jam yang lalu
Diduga Cabuli Pegawai Honorer, Anak Bupati Labuhanbatu Dipolisikan
5
Survei Indometer: 34 Nama Potensial ke Nasional, dari Riau Muncul Nama Instiawati Ayus
Politik
19 jam yang lalu
Survei Indometer: 34 Nama Potensial ke Nasional, dari Riau Muncul Nama Instiawati Ayus
6
Misbakhun Yakin New Normal Akan Bangkitkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19
Politik
15 jam yang lalu
Misbakhun Yakin New Normal Akan Bangkitkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Mer-C Gugat ke Peradilan Internasional, Warning Buat KPU Atas Tewasnya Ratusan Petugas Pemilu

Mer-C Gugat ke Peradilan Internasional, Warning Buat KPU Atas Tewasnya Ratusan Petugas Pemilu
Jum'at, 17 Mei 2019 02:43 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Organinasi sosial kedaruratan medis, Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) akan membawa kasus meninggalnya ratusan petugas Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 ke Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Cour (ICC) dan Komisi Hak Asasi Manusia atau United Nation Human Right Council (UNHRC) PBB.

Pembina MER-C, Joserizal Jurnalis pada Kamis (16/05/2019) di Jakarta mengatakan, "ini masih warning buat KPU,".

Meski begitu, warning tersebut bukan main-main karena Mer-C menilai, tewasnya ratusan petugas Pemilu yang sebagian besarnya adalah petugas (KPPS Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) dalam Pemilu 2019, merupakan kejadian luar biasa (KLB).

"Kalau KPU tetap abai, ya kita nggak ragu-ragu membawa ini," tegasnya.

Mer-C bahkan berpandangan, proses perhitungan suara layak untuk dihentikan sementara-selama proses penanganan dan penyelidikan sebab kematian, guna mencegah munculnya korban tewas baru. Karena, "masih ribuan juga yang sakit,".

Sejauh ini, KPU mencatat jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia tembus 456 orang dan 4.310 orang menderita sakit.

Sementara itu, pada Rabu (08/05/2019), Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek menyebut, jumlah petugas KPPS yang meninggal pada Pemilu 2019 tidak lebih banyak dari saat perhelatan Pilkada 2017 dan 2018, "Artinya pada minggu pertana pemilu grafiknya tidak lebih tinggi dari tahun sebelumnya,".***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww