Halal Bihalal dengan Warga Kalbar, OSO Ingatkan Pentingnya Menjaga Marwah dan Martabat Budaya Melayu

Halal Bihalal dengan Warga Kalbar, OSO Ingatkan Pentingnya Menjaga Marwah dan Martabat Budaya Melayu
Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang, saat memberikan sambutan. (Muslikhin)
Sabtu, 06 Juli 2019 22:11 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
PONTIANAK - Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, mengingatkan kembali mengenai marwah dan sifat-sifat yang harus dijunjung oleh masyarakat adat Melayu melalui Majelis Adat Budaya Melayu di Kalbar.

Meskipun dalam pemilu dan Pilpres 2019 kemarin banyak berbeda pilihan, namun OSO yakin, warga Melayu di Kalbar tidak terpecah belah dan tetap mengedepankan persatuan dan sopan santun.

"Majelis Budaya Adat Melayu ini adalah organinisasi yang mengedepankan budaya Melayu yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesansantun, bermarwah, bermartabat dan bersahabat. Meski sempat beda pilihan, kita bangsa Melayu tetap bersahabat.

Tidak hanya suku Melayu, Namun seluruh suku, agama dan masyarakat di Kalbar kata dia, berperan besar dalam menjaga kondusifitas selama pesta demokrasi 2019 yang berlangsung dengan tertib, aman, dan damai.

"Setelah Pileg dan Pilpres, seluruh masyarakat harus kembali bersatu untuk membangun Kalbar. Sudah tidak adalagi istilah 01 dan 02. Ini saatnya saling memafkan dan saling berangkulan," ujar OSO, sapaan Oesman Sapta, saat memberi sambutan dalam acara Halal Bi Halal Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) di Rumah Adat Melayu, Pontianak, Kalbar, Sabtu (06/07/2019).

Dalam kesempatan itu, Oso juga menyampaikan, Organisasi yang besar adalah organisasi yang tidak sombong, angkuh dan tetap mengedepankan silaturahmi demi keutuhan anggotanya. Kesombongan kata Ketua Umum Hanura itu, harus mampu dihilangkan dalam budaya agar dapat berbaur. "Budaya Adat Melayu sifatnya melayani, meskipun hal itu tidak gampang. Termasuk menghilangkan kesombongan. Karena kesombongan tidak bisa mengajak kita berkomunikasi dengan orang lain atau suku lain," uraianya.

Makanya menurut Oso, sifat budaya Melayu itu adalah bagaimana berkomunikasi dengan baik, santun dan mengajak semua orang bisa berkomunikasi dengan saling mengerti, saling bersahabat. "Marwah dari Budaya Adat Melayu ini adalah agar bisa berkomunikasi dengan orang lain atau suku lain," katanya.

Terkait dengan hasil Pilpres dan Pileg 2019, Oso berharap agar masyarakat dapat bersatu kembali demi keutuhan NKRI. "Saya meyakini, pemimpin yang dipilih warga Kalbar sudah tepat. Kini saatnya bagaimana membangun Kalbar, tanpa membedakan suku, agama, kelompok yang sempat memanas di Pilpres. Karena capaian pembangunan pemerintah sekarang, termasuk kerja keras Pak Gubernur dan jajarannya, yang menikmati juga warga Kalbar sendiri," tandasnya.

Ketua Kehormatan MABMKB ini juga mengaku bangga dengan masyarakat kedawasaan dan kematangan sikap masyarakat Kalbar dalam menghadapi kontestasi politik. Masyarakat Kalbar tak terpengaruh dengan isu-isu perpecahan yang kerap disuarakan selama Pileg dab Pilpres, meski Provinsi Kalbar memiliki keberagaman budaya, etnik dan agama.

"Provinsi Kalbar, rentan dengan upaya adu domba dan pecah belah dari oknum yang tidak bertangggungjawab. Tapi, adu domba dan hasut menghasut, ternyata tidak berlaku di Kalbar," puji Wakil Ketua MPR RI ini.

Melihat kenyataan itu, lanjut OSO, dirinya akan mempromosikan prestasi dan kematangan masyarakat Kalbar dalam melaksanakan pesta demokrasi. "Disisa masa jabatan sebagai Ketua DPD, saya akan selalu membawa nama Kalbar dimanapun berada. Dengan begitu, apa yang saya lakukan saat ini bisa menjadi kenangan bagi masyarakat Kalbar," imbuhnya.

Lebih lanjut, OSO mengingatkan tentang semagat perjuangan dan persatuan bangsa. Saat bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, tegas dia, seluruh lapisan masyarakat datang untuk berjuang, tanpa menayakan asal usul agama, suku, warna kulit dan sebagainya. 

"Saat itu, semangat kita cuma satu. Kita ingin Indonesia merdeka, Indonesia dapat membangun bangsa dan negaranya, dan generasi penerus Indonesia bebas dari penjajahan. Tidak ada sekat agama, suku, dan warna kulit," cetusnya.

Karenanya, sambung dia, saat Indonesia merdeka, tak satupun suku, golongan atau agama tertentu yang dapat mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling berjasa dan berkuasa di republik ini. "Kita tidak boleh lupa sejarah perjuangan bangsa. Sekarang, seluruh rakyat Indonesia harus bangkit, kembali bersatu padu untuk membangun bangsa pasca berbeda pilihan dalam Pileg dan Pilpres 2019," jelas dia.***


wwwwww