Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
24 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
2
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
6 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
3
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
24 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
4
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
5
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
24 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Home  /  Berita  /  Badminton

Bukan Untuk Rakyat, Ibukota Baru Berpotensi Jadi Olahan Pemilik Modal

Bukan Untuk Rakyat, Ibukota Baru Berpotensi Jadi Olahan Pemilik Modal
Desain Ibukota baru di Kalimantan yang beredar (Net)
Rabu, 28 Agustus 2019 15:35 WIB
JAKARTA - Pemindahan Ibukota dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur bukan jaminan menyelesaikan masalah. Bahkan rencana ini berpotensi menimbulkan masalah baru.

"Jika tidak dilakukan dengan tertib, Ibukota baru menjadi olahan pebisnis dan pemilik modal. Apalagi jika pemindahan tidak dipersiapkan dengan matang, baik dari segi konsep dan pengelolaannya," kata pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (28/8).

Kekhawatiran tersebut diakui Pangi sudah tercium dari kajian yang dilakukan pemerintah. Meski Presiden Joko Widodo menyebut sudah melakukan kajian mendalam, namun hingga kini publik masih bertanya-tanya kajian seperti apa yang dilakukan Pemerintah.

Pemerintah juga terkesan tertutup soal kajian yang diklaim sudah dilakukan selama tiga tahun belakangan yang ujungnya memilih Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara sebagai lokasi Ibukota baru.

"Indikasi masalah baru mulai terbaca dengan ketiadaan kajian yang komprehensif dan mendalam terkait alasan pemindahan, pemilihan lokasi, kesiapan regulasi, koordinasi antarkelembagaan (terutama pemerintah dengan DPR) dan mengabaikan peran partisipatif masyarakat luas," jelas Pangi.

"Jika rencana pemindahan Ibukota ini terburu-buru dan tanpa kehati-hatian (deleberatif), percayalah, kita hakul yakin problem baru akan muncul di Ibukota baru," demikian Pangi.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Rmol.id
Kategori:Badminton, Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww