Loading...    
           

Pertempuran Medan Area Dipentaskan

Pertempuran Medan Area Dipentaskan
Senin, 02 September 2019 10:34 WIB
Penulis: Erni Tanjung
MEDAN-Pementasan Bertajuk 'Pertempuran Medan Area' yang diangkat Yondik Tanto ke pentas ini merupakan proyek Taman Budaya Sumut (TBSU) Yang digelar di Gedung utama TBSU Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu, (31/08) Pukul 16.00 WIB.

TBSU juga mengelar dua kegiatan yakni, pergelaran teater berjudul Pajar Siddiq sebuah epos perjuangan karya Emil Sanossa yang dimainkan oleh Teater Stuppa dan Pergelaran Tari Daerah di Open Stage.

Dalam sambutannya, Kepala taman Budaya Sumut, Deni Elpriansyah mengatakan, pergelaran ini berkaitan dengan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74.

"Kami berharap semoga kegiatan ini bermanfaat buat masyarakat terutama generasi muda, siswa sekolah dan mahasiswa, "jelas Deni. Deni juga berharap dengan pergelaran dua kelompok teater ini dapat menumbuhkembangkan semangat berteater bagi seniman-seniman teater lainnya. Sehingga iklim teater di Sumatera Utara semakin cerah dan lebih baik lagi.

"Kami dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumut berharap, iklim teater semakin baik dan tumbuh semangat untuk berkarya karena teater adalah induk dari semua cabang seni. Oleh karenanya, TBSU berharap kegiatan seperti ini dapat diselenggarakan terus setiap tahunnya, "pungkasnya.

Dirilist dari sumber Wikipedia, Pertempuran Medan Area adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Medan, Sumatra Utara.

Pertempuran Medan Area Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia, Tanggal 13 Oktober 1943- 1946 atau 1947 Lokasi Medan Hasil Perang Gerilya dan Perang Frontal selama 2 tahun Pihak terlibat, Indonesia, Brirania Raya Tokoh dan pemimpin Achmad Tahir T. E. D Kelly.

Pada tanggal 9 Oktober 1945, dibawah pimpinan T. E. D Kelly. Pendaratan tentara sekutu (Inggris) ini diikuti oleh pasukan sekutu dan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing berbagai insiden terjadi di Hotel yang terletak di Jalan Bali, Kota Medan, Sumut, pada Tanggal 13 Oktober 1945.

Saat itu, seorang penghuni merampas dan menginjak-injak lencana merah putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan pemuda Indonesia. Pada tanggal 13 Oktober 1945, barisan pemuda dan TKR bertempur melawan Sekutu dan NICA dalam upaya merebut dan mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dari tangan Jepang.

Inggris mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Sekutu. Ultimatum ini tidak dihiraukan. Pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu memasang papan yang tertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area" (batas resmi wilayah Medan) di berbagai pinggiran kota Medan. Tindakan Sekutu itu merupakan tantangan bagi para pemuda.

Pada tanggal 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki Kota Medan. Untuk sementara, waktu pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan ke Siantar, sementara itu perlawanan para laskar pemuda dipindahkan keluar Kota Medan. Perlawanan terhadap sekutu semakin sengit pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebing Tinggi.

Kemudian diadakanlah pertemuan di antara para Komandan pasukan yang berjuang di Medan Area dan memutuskan dibentuk nya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat untuk memperkuat perlawanan di Kota Medan. Setelah pertemuan para komando itu, pada tanggal 19 Agustus 1946 di Kabanjahe telah terbentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) dan berganti nama menjadi Komando Resimen Laskar Rakyat cabang Tanah Karo, dipimpin oleh Matang Sitepu, sebagai ketua umum, dan dibantu oleh Tama Ginting, Payung Bangun, Selamat Ginting, Rakutta Sembiring, R. M Pandia dari N.V Mas Persada Karo-karo dan Keterangan Sebayang.

Di dalam Barisan Laskar Rakyat ini semua potensi pimpinan pemuda dengan berisan-barisan perjuangannya dirangkul dan digabung ke dalam Barisan Pemuda Indonesia termasuk bekas Gyugun atau Heiho seperti: Djamin Ginting, Nelang Sembiring, Bom Ginting. Sedangkan yang berasal dari Talapeta adalah: Payung Bangun, Gandil Bangun, Meriam Ginting, Tampe Malem Sinulingga. Yang berasal dari N. V Mas Persada: Koran Karo-karo. Yang berasal dari Pusera Medan: Selamat Ginting, Rakutta Sembiring dan Tampak Sebayang. Demikian pula dari potensi-potensi pemuda lain seperti: Tama Ginting, Matang Sitepu.

Dalam proses sejarah selanjutnya, Komando Laskar Rakyat kemudian berubah menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan tentara resmi pemerintah, di mana Djamin Ginting ditetapkan sebagai Komandan Pasukan Teras bersama-sama Nelang Sembiring dan Bom Ginting serta anggota lain seperti: Selamat Ginting, Nahud Bangun, Rimrim Ginting, Kapiten Purba, Tampak Sebayang dan lain-lain.

Pada umumnya, yang menjadi anggota BKR ini adalah para bekas anggota Gyugun atau Heiho dan berisan-barisan bentukan Jepang. Djamin Ginting merupakan bekas komandan pleton Gyugun yang ditunjuk menjadi Komandan Batalyon BKR Tanah Karo. Untuk melanjutkan perjuangan di Medan, maka pada bulan Agustus 1946 dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando resimen ini terus mengadakan serangan terhadap Sekutu di wilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatra terjadi perlawanan rakyat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Pertempuran itu terjadi di daerah lain juga, antara lain di Berastagi, Padang, Bukit Tinggi dan Aceh.*


       
        Loading...    
           
wwwwww