Loading...    
           

'Jeritan Pilu Hati Ibu', Puisi Seorang Guru SLB di Pekanbaru yang Gelisah dengan Pekatnya Kabut Asap

Jeritan Pilu Hati Ibu, Puisi Seorang Guru SLB di Pekanbaru yang Gelisah dengan Pekatnya Kabut Asap
Anak-anak SLB Negeri Pembina Pekanbaru yang kenakan masker di kelas.
Selasa, 10 September 2019 14:03 WIB
Penulis: Nyimas Naima Azzahra
PEKANBARU - Sudah sepekan terakhir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau diselimuti kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kondisi asap yang semakin pekat setiap harinya ini, membuat Walikota Pekanbaru, Firdaus mengeluarkan instruksi untuk meliburkan sekolah selama dua hari, mulai 10-11 September 2019.

Hal inilah yang melatarbelakangi seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Pekanbaru bernama Dewi Anggraini, untuk mencurahkan kegelisahannya akan bencana kabut asap di Provinsi Riau melalui sebuah puisi.

Puisi yang berjumlah tujuh paragraf ini, ditulisnya sebagai bentuk kekecewaan dan keprihatinannya akan bencana kabut asap.

"Saya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa berdoa dan melepas resah dan sesak di dada melalui puisi ini," kata Dewi kepada GoRiau.com di Pekanbaru, Selasa (10/9/2019).

"Puisi ini sebagai bentuk kegelisahan saya, sebagai seorang ibu bagi anak-anak saya, dan seorang guru bagi anak-anak istimewa di SLB ini. Gelisah dengan keadaan lingkungan yang sudah tidak sehat," sambungnya.

SLB Negeri Pembina sendiri, lanjutnya, juga sudah mulai diliburkan, mengikuti instruksi dari Walikota Pekanbaru, Firdaus. "Kemarin anak-anak cepat dipulangkan. Hari ini dan besok insyaallah diliburkan," katanya.

Dewi juga berharap, agar pemerintah bisa menindak tegas pelaku-pelaku pembakar lahan yang menyebabkan kabut asap ini.

"Ini bukan hanya terjadi di tahun ini, rasanya setiap tahun ada saja pembakaran yang terjadi. Dan ini yang terparah sejak 2015, karena itu besar harapan saya agar pemerintah bisa bertindak tegas," keluhnya.

Berikut adalah puisi berjudul Jeritan Pilu Hati Ibu karya Dewi Anggraini.

Jerebu membuat kelu

Melukai hati semua ibu

Eksplorasi anak tak berlaku

Jendela kaku, pintu dipaku

Oh anakku, maafkan ibumu

Bukan kehendak ibu membuatmu jemu

Jerebu membatasimu menuntut ilmu

Enyahkan asap ibu tak mampu Jerebu

Perlahan dan diam-diam

Hutan dibakar kota pun mencekam

Asap merajalela paru kita dihantam

Alam menjerit jantung dihujam

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka

Sandiwara apa lagi yang akan ditampilkan sang penguasa

Jerit tangis orangtua tampak sia-sia

Tidakkah mereka takut akan api neraka

Lambat laun, jerat israil mendekat

Kotoran hitam kuat melekat Menggerogoti paru-paru, mengikat racun dengan erat

Sampai kapan kita terikat?

Pagi ini ibu pandangi cakrawala

Burat senyumnya tak lagi sama

Kicau burungpun tak berirama

Kemana perginya dirimu wahai cahaya

Duhai Allah penguasa alam

Keluatkan kami dari asap yang hitam kelam

Selamatkan anak cucu kami dari bahaya yang mencekam

Sesungguhnya engkau yang dapat membuat api-api padam

Dan hanya Engkau yang dapat singkirkan orang-orang yang kejam

Semoga jerebu segera berlalu.***


       
        Loading...    
           
wwwwww