Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
12 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
2
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
Umum
19 jam yang lalu
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
3
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
Hukum
20 jam yang lalu
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
4
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
14 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
5
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
Kesehatan
17 jam yang lalu
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
6
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI
Politik
15 jam yang lalu
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Penjelasan Jack Dorsey soal Penghentian Iklan Politik di Twitter

Penjelasan Jack Dorsey soal Penghentian Iklan Politik di Twitter
CEO Twitter Jack Dorsey berpidato di depan balai kota di Institut Teknologi India (IIT) di New Delhi, India, 12 November 2018. REUTERS
Kamis, 31 Oktober 2019 17:48 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Twitter akan menghentikan iklan politik di platform media sosial itu sekitar November 2019. Aturan ini berlaku untuk seluruh dunia.

Kamis (31/10/2019), CEO Twitter, Jack Dorsey melalui akun @jack menyatakan, "kami telah membuat keputusan untuk menghentikan semua iklan politik di twitter secara global,".

Kutipan cuitan itu, per pukul 17.12 WIB sudah cuit ulang oleh netizen sebanyak 86 ribu kali dan disukai sebanyak 392 ribuan kali.

Melalui rangkaian cuitannya, Jack menjelaskan bahwa kekuatan iklan di internet sangatlah besar dan membawa resiko signifikan. "Ia dapat digunakan untuk mempengaruhi suara-mempengaruhi kehidupan jutaan orang.

Iklan politik di Internet, kata Jack, menghadirkan tantangan baru untuk wacana kenegaraan, informasi negatif yang tidak dicentang dan resiko kabar palsu. "Semua pada peningkatan kecepatan, kecanggihan, dan skala luar biasa,".

Twitter, kata Jack, menyadari betul bahwa mereja adalah bagian kecil dari ekosistem periklanan politik yang besar. "Kita membutuhkan peraturan iklan politik yang lebih berpandangan ke depan," katanya.

Dan, lanjutnya, "Internet menyediakan kemampuan yang baru, dan regulator perlu berpikir melewati hari ini untuk memastikan medan bermain yang merata,".

Ia menegaskan, Twitter akan membagikan kebijakan finalnya secara resmi sebelum tanggal 15 November 2019. "Termasuk beberapa pengecualian, misalnya jika akhirnya iklan yang mendukung pendaftaran pemilih masih diizinkan,".

"Ini bukan sekedar tentang kebebasan berekspresi," kata Jack.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww