Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
21 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
9 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
3
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
9 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
4
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
19 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
10 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
9 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Home  /  Berita  /  Badminton

Farhan Desak TNI Siagakan Pasukan untuk Serang Abu Sayyaf

Farhan Desak TNI Siagakan Pasukan untuk Serang Abu Sayyaf
Senin, 02 Desember 2019 16:59 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem meminta Panglima TNI menyiagakan pasukan untuk menyerang lokasi-lokasi kelompok Abu Sayyaf.

Permintaan itu disampaikan Farhan menyusul tidak adanya kejelasan soal nasib tiga WNI yang diculik kelompok Abu Sayyaf sejak September 2019 lalu. "Saya kecewa, karena hingga kini Pemerintah Malaysia dan Filipina terkesan lamban dalam menangani kasus ini," kata Farhan geram.

Dilansir dari pemberitaan, tiga WNI yang berprofesi sebagai nelayan disandera kelompok Abu Sayyaf ini berasal dari Baubau dan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Tiga nelayan tersebut ialah Maharudin Lunani (48), puteranya, Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27). Mereka diculik dari kapal saat tengah melaut di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia.

Menurut Farhan, sejak kasus ini terjadi hingga saat ini, tidak ada kemajuan signifikan dalam proses pembebasannya. Bahkan tidak ada kabar kondisi terakhir mereka dari pihak-pihak yang berwenang, khususnya pemerintah Malaysia dan Filipina.

Farhan menyebut Malaysia dan Filipina adalah dua negara yang paling bertanggung jawab dalam kasus penculikan dan penyanderaan tiga WNI.

“Malaysia bertanggung jawab karena insiden terjadi di perairan Sabah dan tauke-nya asal Malaysia, sementara Filipina harus bergerak cepat karena kelompok penculik berafiliasi dengan Abu Sayyaf di Filipina,” terang politisi asal Jawa Barat itu.

Kurangnya keseriusan dua negara tersebut dalam upaya pembebasan sandera membuat Farhan mengusulkan agar TNI disiagakan di wilayah lokasi persembunyian kelompok-kelompok Abu Sayyaf.

Politisi yang membidangi pertahanan dan luar negeri itu mengakui bahwa memang aksi militer tidak bisa secara serta merta dan sepihak dilakukan oleh TNI karena hal ini menyangkut batas teritori dan kedaulatan negara lain. Tetapi, kesiapan pasukan TNI menjadi faktor penting sebagai bukti keseriusan pemerintah Indonesia dan tekanan kepada Malaysia, juga khususnya Filipina agar mereka serius dalam menangani kasus ini.

Karenanya, lanjut Farhan, perlu ada kerja sama militer antar negara. Namun, jika memang militer Filipina tidak sanggup, biarkan TNI yang menyelesaikan kasus penculikan ini dengan caranya sendiri, tegasnya.

Ke depan, agar insiden tidak terus berulang, Farhan menyarankan kerja sama keamanan lebih serius di antara negara anggota ASEAN, khususnya untuk wilayah perairan yang rawan dari tindak kejahatan. Hal ini penting untuk pertahanan sehingga tercipta kawasan regional yang aman dan stabil.

“Patroli militer bersama, rutin dan intensif di perairan Indonesia, Malaysia Filipina harus semakin ditingkatkan. Kedaulatan dan stabilitas keamanan kawasan harus tercipta”, tambah Farhan.***

wwwwww