Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
3 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
5
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
6
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
Sepakbola
2 jam yang lalu
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
Home  /  Berita  /  Badminton

Karena Bahaya, Fadli Zon Minta Wacana Perubahan Masa Jabatan Presiden Disudahi

Karena Bahaya, Fadli Zon Minta Wacana Perubahan Masa Jabatan Presiden Disudahi
Foto: Zul/GoNews.co
Senin, 02 Desember 2019 16:18 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Anggota Fraksi Partai Gerindra MPR RI, Fadli Zon meminta, agar diskursus perubahan masa jabatan presiden yang belakangan menyeruak, segera disudahi karena hanya akan membuka kotak Pandora bagi Demokrasi Indonesia pasca reformasi.

"Ini wacana yang berbahaya, karena berdasarkan penelitian, memang ada kecenderungan dari petahana itu untuk extend kekuasaannya," kata Fadli yang juga aktor dari Reformasi 1998 silam itu dalam diskusi "Menakar Peluang Amendemen Konstitusi?" di Media Center MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019)

Kritik Fadli juga menyasar wacana menghidupkan kembali GBHN. Baginya, wacana tersebut hanya untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam mewujudkan janji-janjinya, seperti ekonomi meroket dan sebagainya.

"(GBHN, red) tidak perlu karena di dalam sistem presidensil, presiden sudah sangat kuat," kata dia.

Sebagai pengingat, wacana-wacana ini meluas menyusul adanya rekomendasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI periode 2014-2019 lalu pada MPR periode saat ini, yang sebetulnya hanya memuat 7 poin rekomendasi untuk dikaji lebih jauh, yakni:

a) Pokok-pokok Haluan negara

b) Penataan Kewenangan MPR RI

c) Penataan Kewenangan DPD

d) Penataan sistem presidensial

e) Penataan kekuasaan Kekahiman

f) Penataan sistem hukum dan peraturan perundangan berdasarkan Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum negara

g) Pelaksanaan Pemasyarakatan nilai-nilai 4 Pilar MPR RI serta Ketetapan MPR RI

7 poin tersebut tertuang dalam pasal 1 Keputusan MPR nomor 8/MPR/2019. Dan pasal 3 Ketetapan MPR yang sama, mengamankan pada MPR untuk melakukan kajian lebih jauh hingga didapati satu konsensus politik bersama.

"Terhadap rekomendasi pasal 1 huruf b, c, d, e, f, MPR periode 2019-2024 melakukan kajian lebih mendalam," bunyi pasal 3 Ketetapan MPR RI itu.***

wwwwww